Ulama Bukan Sekedar Orang Yang Berilmu

Masjid Annur Plasa telkom Jln. Lembong

Senin (27/5), karena suatu keperluan untuk mengganti kartu flexi di Plasa Telkom di Jalan lembong Bandung dan kebetulan sudah tiba waktu sholat dzuhur, penulis mampir di masjid AnNur yang terletak di sebelah plaza telkom. Bada Sholat Dzhuhur sambil menunggu hujan agak reda penulis mengikuti pengajian rutin yang pengisi acaranya rasanya penulis kenal.  Dan betul saja, ternyata pengisi acara yang tadi sempat bersalaman bada sholat dzuhur ternyata memang betul KH. Athian Ali Dai – Ketua FUUI (Forum Ulama Umat Indonesia). Siang itu Athian Ali mengulas tentang Surat Al Ikhlash dan flashback materi sebelumnya yaitu surat Al Falaq dan menandaskan kita sebagai muslim jangan memiliki sifat “hasad” atau dengki.

Menarik, apa yang disampaikan beliau mengenai definisi “ulama” dan pengertian ulul ‘ilmi. “Ulama tidak sekedar orang yang berilmu atau hafal quran dan hadits, namun ulama adalah orang yang menyaksikan Alloh kekuasaan Alloh dengan ilmunya itu,”ujarnya.  Menurutnya,  ini berkaitan dengan Surah Ali imron 191 “Robbana maa kholaqta hadza bathila, Subhanaka faqinaa adzabannar”.

“Secara bahasa, setiap Orang yang berilmu/ahli ilmu apa saja disebut  ‘aalim atau ‘aalimun, “, kalau “berdua” namanya ‘aalimani, kalau “banyak, berkumpul lebih dari dua orang” namanya “ulama”, kalau membuat majelis namanya “majelis ulama”, “karena di Indonesia, sehingga disebut Majelis Ulama Indonesia disingkat MUI, “jelasnya.

Pengertian ulama menurut alquran adalah “innama yakhsyalloohi min ‘ibadihil ulama”, ulama itu orang yang berilmu yang dengan ilmunya itu semakin takut kepada Alloh, semakin takut melanggar aturan Alloh. “Walaupun hafal Quran, hafal hadits, kalau tidak takut kepada Alloh, itu bukan ulama,”tandasnya.

Kyai Athian Ali juga mengkritisi muslim yang berdoa kepada Alloh hanya dengan lafal “ya Tuhan” misal “ya tuhan ampunkanlah dosa kami..”,itu salah'”katanya. Yang benar adalah “ya Alloh” atau “ya Alloh Tuhan kami…”.  “Tuhan (ilah) itu banyak, maka supaya sesuai yang dimaksud maka harus disebutkan Tuhan yang mana. Tuhan kita adalah Alloh. Juga orang sunda suka berdoa “duh gusti pangeran abdi”, pangeran itu khan banyak : ada Pangeran Diponegoro dll. yang benar adalah “duh gusti Alloh pangeran abdi..”. Dalam berdoa supaya benar karena kita berdoa kepada Alloh,memanggil nama Alloh, kita pun kalau dipanggil bukan namanya tentu tidak mau “, tegasnya.

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.