SESAT DAN ASING ADALAH DUA KATA YANG BERBEDA

Sesat & Asing Dua Kata Berbeda
Advertisements

SESAT DAN ASING ADALAH DUA KATA YANG BERBEDA

Sesat & Asing Dua Kata Berbeda
Sesat & Asing Dua Kata Berbeda

DEFINISI “SESAT”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/sesat

sesat /se·sat/ a 1 tidak melalui jalan yg benar; salah jalan: malu bertanya — di jalan; mati –; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yg tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran (tt agama dsb): ajaran yg –; surut, terlangkah kembali, pb memperbaiki kesalahan yg telah dibuat;

— air salah didik (sukar diajar);
— akal gila;
— barat salah jalan sama sekali;
— lalu menempuh jalan yg salah;
— langkah melakukan perbuatan yg tidak patut; berbuat yg tidak senonoh;
— pikiran salah pendirian (pendapat);
— pusat bingung;bersesat /ber·se·sat/ a dl keadaan salah jalan; kesasar;menyesatkan /me·nye·sat·kan/ v 1 membawa ke jalan yg salah; menyebabkan sesat (salah jalan): mereka memang sengaja – kita;2 ki menyebabkan keliru (salah) dsb: – pandangan; – pikiran;tersesat /ter·se·sat/ v salah jalan; kesasar: mudah- mudahan ia tidak – di tengah jalan;spt sebuah biji – dl rumput, pb 1 orang yg hina tidak kelihatan oleh orang; 2 sesuatu yg kecil;kesesatan /ke·se·sat·an/ n 1 kebingungan; 2 ki kesalahan jalan atau pikiran; kekeliruan; sesuatu yg sesat;penyesatan /pe·nye·sat·an/ n proses, cara, perbuatan menyesatkan

 

Menurut Wikipedia  – Ensiklopedia Bebas di http://id.wikipedia.org/wiki/Sesat :

Sesat atau kesesatan bahasa Arabnya adalah dhalâl atau dhalâlah. Ia merupakan mashdar (gerund) dari dhalla–yadhillu–dhalâl[an] wa dhalâlat[an]; maknanya di antaranya: ghâba wa khâfa(tersembunyi), dzahaba (pergi/lenyap), dhâ’a (sia-sia), halaka (rusak), nasiya (lupa), al-hayrah (bingung), dan khatha’a (keliru).1

Pendapat Para Ahli

Abu Amru seperti dikutip al-Azhari dan Ibn ManzhurAbu Manshur yang dikutip Ibn Manzhur, dan Ibn al-‘Arabi yang dikutip al-Qurthubi, menyatakan bahwa asal dari dhalâl adalah al-ghaybûbah(tersembunyi/gaib).2 Menurut al-Alusi dan Abu Hilal al-‘Askari, asal dari dhalâl adalah al-halâk (rusak).3 Kemudian al-Baghawi menggabungkan keduanya bahwa asal dari dhalâl adalah al-halâk wa al-ghaybûbah (rusak dan tersembunyi).4

Kata dhalla dan bentukannya banyak sekali terdapat di dalam al-Quran dan hadis. Al-Quran menyatakan kata dhalla dan bentukannya minimal sebanyak 191 kali di 105 ayat. Di antaranya juga menggunakan makna bahasa di atas (Lihat, misalnya: QS Thaha [20]: 52; QS asy-Syuara’ [26]: 20; QS al-Baqarah [2]: 282; QS ar-Ra’d [13]: 14; QS al-An’am [6]: 94; QS al-Qamar [54]: 47).

Dhalâl juga berarti dhiddu al-hudâ wa ar-rasyâd (lawan dari petunjuk dan bimbingan). Ibn al-Kamal dan al-Jurjani menyatakan bahwa dhalâl adalah ketiadaan sesuatu yang mengantarkan pada apa yang dituntut; atau jalan yang tidak mengantarkan kepada yang dicari/tujuan.5 Al-Qurthubi mengatakan bahwa dhalâl hakikatnya adalah pergi meninggalkan kebenaran, diambil dari tersesatnya jalan, yaitu menyimpang dari jalan yang seharusnya. Ibn ‘Arafah berkata, “Adh-Dhalâl, menurut orang Arab, adalah berjalan di jalan yang bukan jalan yang dimaksud (bukan jalan yang mengantarkan pada maksud dan tujuan).”6

Abu Ja’far, seperti dinukil oleh ath-Thabari, mengatakan, “Jadi, setiap orang yang menyimpang dari jalan yang dimaksudkan, dan menempuh selain jalan yang lurus, menurut orang Arab, ia sesat, karena ketersesatannya dari arah jalan yang seharusnya.”7

Walhasil, dhalâl secara tradisi tidak lain adalah penyimpangan dari jalan yang bisa mengantarkan pada tujuan yang diinginkan, atau penyimpangan dari jalan yang seharusnya.

Pandangan Secara Syar’i

Secara syar’i, jalan yang dimaksud tentu saja jalan kebenaran (tharîq al-haqq) atau jalan yang lurus (tharîq al-mustaqim), yang tidak lain adalah Islam itu sendiri. Prof. Rawas Qal’ah Ji menjelaskan bahwa adh-dhalâl adalah tidak tertunjuki pada kebenaran (‘adam al-ihtidâ’ ilâ al-haqq).8 Menurut ar-Raghib al-Asfahani, adh-dhalâl adalah penyimpangan dari jalan yang lurus (al-‘udûl ‘an ath-tharîq al-mustaqîm). Al-Qurthubi, ketika menafsirkan surat al-A’raf ayat 60, menyatakan bahwa adh-dhalâl adalah penyimpangan dari jalan kebenaran dan pergi darinya (al-‘udûl ‘an tharîq al-haqq wa adz-dzihâb ‘anhu).

Adh-Dhalâl bisa terjadi dalam masalah akidah maupun hukum syariah. Murtadha az-Zabidi di dalam Tâj al-’Urûs (1/7250) menyatakan, “Adh-Dhalâl (dilihat) dari sisi lain ada dua bentuk: dhalâl pada al-’ulûm an-nazhariyyah seperti dhalâl dalam ma’rifah akan wahdaniyah Allah, kenabian, dsb yang ditunjukkan dalam QS an-Nisa’ [4]: 136; dan dhalâl dalam al-’ulûm al-’amaliyyah seperti ma’rifah tentang hukum-hukum syariah, yang merupakan ibadah.”9

Al-Quran

Al-Quran menjelaskan orang-orang yang sesat, yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah (QS an-Nisa’ [4]: 116); orang kafir (QS an-Nisa’ [4]: 136); orang murtad alias menjadi kafir setelah beriman (QS Ali Imran [3]: 90); orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah berikan kepada mereka semata-mata demi mendustakan Allah (QS al-An’am [6]:140); berputus asa dari rahmat Tuhannya (QS al-Hijr [15]: 56); orang yang telah dikuasai oleh kejahatannya (QS al-Mu’minun [23]:106); mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, yaitu memilih yang lain dalam suatu perkara, padahal Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan dalam perkara tersebut (QS al-Ahzab [33]: 36); orang kafir, yaitu orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat serta menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok (QS Ibrahim [14]: 2-3). Termasuk bagian dari kesesatan (adh-dhalâlah) adalah perilaku berhukum kepada thaghut (QS an-Nisa’ [4]: 60) serta mengambil musuh Allah dan musuh kaum Muslim sebagai wali, karena rasa kasih sayang (QS Mumtahanah [60]: 28), dan sebagainya.

Al-Hadis

Definisi sesat secara jelas disabdakan Rasulullah SAW sebagai berikut :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِـهِمَا كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ  رواه مالك

 “Telah kutinggalkan dua perkara. Kalian TIDAK AKAN SESAT selama berpedoman pada dua perkara ini. Dua perkara tersebut adalah Kitabillah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadis).

dalam Riwayat Hadis Nasai,Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang mengerjakan bid’ah juga dikatakan “sesat” (dhalalah) :

 وَشَرُّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ  رواه النّسائى

“Sejelek-jeleknya perkara adalah perkara yang baru (dalam agama). Setiap perkara baru adalah bidah. Setiap bid’ah adalah SESAT dan setiap kesesatan ada di dalam  neraka (HR. Nasai)

Berdasarkan semua itu, secara syar’i, adh-dhalâl bisa didefinisikan sebagai penyimpangan dari Islam dan kufur terhadap Islam (inhirâf ’an al-islâm wa kufr bihi). Dengan demikian, semua bentuk penyimpangan dari Islam merupakan bagian dari kesesatan. Akan tetapi, tidak semua bentuk penyimpangan dari Islam itu menjadikan pelakunya bisa divonis sesat. Al-Quran sendiri menjelaskan bahwa perbuatan berhukum pada hukum thaghut (hukum selain dari yang diturunkan oleh Allah) merupakan perbuatan kufur. Namun, tidak semua pelakunya divonis kafir, tetapi ada juga yang dinilai fasik atau zalim.

Penyimpangan dari Islam itu bisa berupa kesalahan, yaitu kekeliruan pemahanan dan praktik yang terkait dengan perkara syariah yang konsekuensinya adalah maksiat. Namun, penyimpangan bisa juga dalam bentuk kesalahan pemahaman yang terkait dengan perkara akidah atau syariah, tetapi diyakini kebenarannya, yaitu yang merupakan perkara qath’i atau bagian dari perkara yang ma’lûm min ad-dîn bi adh-dharûrah, yang konsekuensinya adalah kekufuran. Hal yang sama berlaku juga dalam hal pengingkaran.

Dengan demikian, penyimpangan dan pengingkaran yang berkonsekuensi penganut atau pelakunya bisa dinilai sesat adalah penyimpangan atau pengingkaran dalam perkara ushul, bukan dalam perkara furu’. Perkara ushul adalah perkara yang berkaitan dengan akidah.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia telah memberikan kriteria suatu paham atau aliran bisa dinilai sesat, yaitu apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut10:

1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, Hari Akhirat, Qadha dan Qadar; serta Rukun Islam yang 5 (lima), yakni: mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji.

2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syariah (Al-Quran dan as-Sunah)

3. Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran.

4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Quran

5. Melakukan penafsiran al-Quran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.

6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam

7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.

8. Mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul terakhir.

9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardhu tidak 5 waktu.

10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan Muslim hanya karena bukan kelompoknya.

Pandangan para Ulama Terdahulu

Kriteria-kriteria ini bukan hal baru. Para ulama sejak dulu telah membahasnya. Meski demikian, siapapun tidak boleh gampang mengatakan orang lain sesat. Penilaian sesat itu serupa dengan penilaian kafir. Abu Hurairah dan Ibn Umar menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Siapa saja yang berkata kepada saudaranya (yang Muslim), “Hai kafir,” maka sungguh tuduhan itu berlaku kepada salah seorang dari keduanya, jika memang tuduhan itu benar; jika tidak, tuduhan itu kembali ke pihak penuduh. (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Justifikasi sesat itu harus dilakukan melalui proses pembuktian (bayyinah). Jika sudah terbukti sesat dengan bukti-bukti yang meyakinkan, maka harus dikatakan sesat. Kemudian penganutnya didakwahi agar bertobat dan kembali pada yang haq, yaitu Islam. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

Catatan kaki:

1 Lihat, Ash-Shahib Ibn al-‘Ibad, al-Muhîth fî al-Lughah, bag. dhalla; Ibn Darid, Jumhurah al-Lughah, bag. dha-la-la; Al-Jawhari, ash-shihâh fî all-Lughah, bag. dhalala; Al-Fayruz Abadi, al-Qâmûs al-Muhîth, bag. adh-dhalâl; Zainuddin ar-Razi, Mukhtâr ash-Shihâh, bag. dhalala;; Abu al-Abbas al-Fayyumi, Mishbâh al-Munîr fî Gharîb Syarh al-Kabîr, bag. dhalala; Al-Jurjani, at-Ta’rifat, 1/44, bag adh-dhalâlah

2 Lihat, Al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, bag. dhalla; Ibn Manzhur, Lisân al-‘Arab, bag. dhalala;; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, tafsir QS. Thâhâ: 52.

3 Lihat, Abu Hilal al-‘Askari, al-Furûq al-Lughawiyah, 1/392; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, tafsir QS. al-Fâtihah: 7.

4 Lihat, al-Baghawi, Tafsîr al-Baghawi, tafsir QS. al-Fatihah: 7.

5 Lihat, Murtadha az-Zabidi, Tâj al-‘Urûs, 1/7250, bagian adh-dhalâl wa adh-dhalâlah; Al-Jurjani, at-Ta’rifât, bag. adh-dhalâlah.

6 Lihat, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, tafsir QS. Yûnus: 52.

7 Lihat, ath-Thabâri, Jâmi’ al-Bayân, tafsir QS. al-Fâtihah: 7 dan QS. al-Baqarah: 108.

8 Lihat, Rawas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughah al-Fuqaha’, 1/284,

9 Lihat, Murtadha az-Zabidi, Tâj al-‘Urûs, 1/7250, bagian adh-dhalâl wa adh-dhalâlah.

10 Lihat, http://www.mui.or.id/mui_in/hikmah.php?id=53&pg=3

DEFINISI “ASING”

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KBBI), http://kbbi.web.id/asing

asing a 1 aneh; tidak biasa: hal itu sangat — bagiku; 2 belum biasa; kaku: bagiku masih terasa — kalau bergaul dng mereka; 3 datang dr luar (negeri, daerah, lingkungan): Pulau Bali banyak dikunjungi wisatawan –; 4 tersendiri; terpisah sendiri; terpencil: ia merasa — di daerah yg baru itu; 5 lain; berlainan; berbeda;– lubuk, — ikannya, pb lain daerah, lain adatnya; — maksud, — sampai, pb tidak sesuai dng yg diharapkan;

berasing /ber·a·sing/ v menyendiri; tidak berkumpul dng yg lain: ia tinggal di sebuah pondok yg ~ dr dusun;

berasing-asingan /ber·a·sing-a·sing·an/ v saling menyendiri; tidak campur-mencampur: hanya satu tahun suami istri itu hidup bersama, kemudian mereka ~;

mengasing /meng·a·sing/ v menyendiri; berasing: ia terpaksa — ke tempat yg jauh dr keramaian kota;

mengasingkan /meng·a·sing·kan/ v 1 menjauhi dr yg lain; menyendirikan: mengapa dia selalu ~ diri; 2 memisahkan: mereka telah ~ temannya yg menderita penyakit cacar itu; 3 membuang jauh-jauh ke tempat yg terpencil: Pemerintah telah ~ orang-orang yg dianggap membahayakan keamanan negara;

terasing /ter·a·sing/ v terpisah dr yg lain; terpencil: aku merasa ~ di tempat baru ini;

perasingan /per·a·sing·an/ n 1 tempat yg menyendiri (jauh dr tempat lain): ia hidup dl ~; 2 tempat mengasingkan diri; 3 tempat orang yg diasingkan; tempat mengasingkan orang;

pengasingan /peng·a·sing·an/ n 1 proses, cara, perbuatan mengasingkan; 2 tempat mengasingkan orang (lawan politik); interniran;

keasingan /ke·a·sing·an/ n 1 perihal asing; keanehan; kelainan; 2 kesendirian

 

Dari definisi di atas, bisa disimpulkan “asing” adalah bisa berarti aneh, tidak biasa, tidak umum, terpencil.  Dalam bahasa Hadis, asing (aneh,tidak biasa, tidak umum) disebutkan sebagai  غَرِيبًا (ghariban) dan orang yang asing sebagai ghuraba.

Baca juga tulisan kami : http://www.jabar.ldii.or.id/islam-bermula-asing-akan-kembali-asing/

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

رواه مسلم145

Dari Abi Huroiroh, Rasulullah SAW bersabda : Islam bermula keadaan asing dan akan kembali seperti bermula yaitu asing. bergembiralah orang-orang yang asing (HR. Shahih Muslim).

Kata “asing”  kita temukan dalam riwayat hadis yang diceritakan Imam Ibnu Wahab, beliau Rasulullah SAW bersabda :

طُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ الَّذِيْنَ يُمْسِكُوْنَ كِتَابَ اللهِ حِيْنَ يُتْرَكُ وَ يَعْمَلُوْنَ بِالسُّنَّةِ حِيْنَ تُطْفَى

Berbahagialah orang yang asing yaitu orang-orang yang berpegang teguh kepada Kitabillah (Kitab Allah yaitu Al Quran) sementara orang-orang banyak meninggalkannya, dan mereka mengamalkan sunnah (hadits) ketika sunnah tersebut umumnya orang banyak memadamkannya”

Dalam dua hadits di atas asing dalam bahasa Hadits adalah orang-orang yang dianggap aneh karena tidak umum, tidak biasa, bahkan mereka terasing di kalangannya sendiri.

Fakta perjalanan sejarah Islam dan diperkuat hadis di atas mencatat bahwa Islam hadir/bermula dalam keadaan asing (tidak umum). Bagaimana tidak? Saat Islam datang di bawa oleh Rasulullah SAW, keadaan Mekah dalam keadaan umumnya penduduk Mekah dalam keadaaan jahiliyyah menyembah berhala dan menyembah banyak Tuhan. Mereka memang mengenal Alloh, namun mereka juga menyembah berhala berupa patung-patung yang mereka sembah. Lalu, Islam datang dengan seruan mengajak menyembah satu Tuhan yang Esa yaitu Allah SWT. Suatu ajakan yang aneh, tidak umum.

Saat ini, muslim yang berpedoman Quran Hadits dan istiqomah menjalankan syariat ibadah sesuai pedoman AlQuran dan Al hadits, dianggap aneh, tidak umum, bahkan dikatakan SESAT! hanya gara-gara tidak umum. Padahal kalau mereka mau membuka Quran Hadits, bukanlah sesuatu yang aneh..akan ketemu dalilna, akan dijumpai bagaimana yang seharusnya.

KESIMPULAN

1.  Secara syar’i, SESAT (adh-dhalâl) bisa didefinisikan sebagai penyimpangan dari Islam dan kufur terhadap Islam (inhirâf ’an al-islâm wa kufr bihi). Dengan demikian, semua bentuk penyimpangan dari Islam merupakan bagian dari kesesatan. Akan tetapi, tidak semua bentuk penyimpangan dari Islam itu menjadikan pelakunya bisa divonis sesat.  Definisi sesat secara jelas disabdakan Rasulullah SAW sebagai berikut :       تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِـهِمَا كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ  رواه مالك

 “Telah kutinggalkan dua perkara. Kalian TIDAK AKAN SESAT selama berpedoman pada dua perkara ini. Dua perkara tersebut adalah Kitabillah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadis).

2. Penyimpangan dan pengingkaran yang berkonsekuensi penganut atau pelakunya bisa dinilai sesat adalah penyimpangan atau pengingkaran dalam perkara ushul, bukan dalam perkara furu’. Perkara ushul adalah perkara yang berkaitan dengan akidah. NB:  furu’iyah/khilafiyah berarti perbedaan. Perbedaan pandangan, pola fikir, pendapat, faham, dan berbagai perbedaan lain yang seringkali memicu perpecahan. Perbedaan dalam Furu’ bukan penyimpangan dan tidak mengantarkan kepada kesesatan, tapi dengan satu syarat yakni : ada dalil yang bisa dipertanggung-jawabkan secara Syar’i.  Perbedaan dalam Furu’ wajib ditoleran dengan jiwa besar dan dada lapang serta sikap saling menghargai. Umat Islam memiliki beragam pendapat, mereka mendengar banyak hadits dan riwayat, dan masing-masing kaum dari mereka mengambil pemahaman yang telah lebih dulu mereka terima daripada munculnya perbedaan pendapat dan semisalnya, lalu mereka mengamalkannya dan sudah terbisaa dengannya. Sesungguhnya, mengubah sesuatu yang telah mereka yakini itu persoalan besar. Karenanya biarkanlah umat dengan apa yang telah mereka amalkan, dan biarkanlah mengamalkan sesuatu yang sudah menjadi pilihan penduduk tiap daerah untuk diri mereka sendiri .

3. Justifikasi sesat itu harus dilakukan melalui proses pembuktian (bayyinah). Jika sudah terbukti sesat dengan bukti-bukti yang meyakinkan, maka harus dikatakan sesat. Justifikasi harus dilakukan oleh lembaga yang kompeten, tidak bisa dilakukan oleh semua orang, kalau dilakukan semua orang bisa-bisa “orang sesat” teriak “sesat”.  Tak seorang pun boleh secara kaku membawa ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW ke lorong buntu dengan mengatakan ini golongan sesat, ini bid’ah, itu haram, syirik, dan kafir, kecuali dengan dalil yang jelas petunjuknya dan bukan karena sentimen pribadi ataupun golongan, dan bukan dengan prasangka dan dugaan.

4.  Sesat dan Asing adalah dua hal yang berbeda. Orang yang asing (aneh, tidak umum, tidak seperti kebanyakan) tidak berarti SESAT. Justru kita yang harus banyak membuka Alquran dan Al-Hadis supaya tidak merasa aneh apabila ada Perintah & Larangan Allah-Rasul yang tidak populer di kalangan masyarakat, padahal seharusnya demikian seperti cara berpakaian seorang Muslim di atas mata kaki (baca: http://www.jabar.ldii.or.id/hukum-celana-menutupi-mata-kaki/) dan pakaian muslimah yang harus menutup aurat sesuai syariat agama.

Seperti dijelaskan salah satu Ketua MUI Pusat Prof. Dr. KH. Umar Syihab : “Kita harus membedakan dengan cermat antara istilah “sesat” dengan “beda”. Sesat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Dan sesat itu perlu diperbaiki melalui dakwah yang benar. Apabila sekadar beda ya boleh-boleh saja. Yang sesat itu jelas beda. Tapi tidak semua yang beda itu sesat. Di dalam Sunni sendiri banyak perbedaan. Di Indonesia ini banyak hal yang beda. Cara wudhu, posisi tangan saat salat, dll. Kenapa mesti dipersoalkan? Bahkan penentuan waktu 1 Syawal pun berbeda. Ini hal yang sangat berbeda. Yang berpuasa pada hari lebaran itu haram. Sedangkan pihak lain meyakini berlebaran pada hari puasa itu haram karena ia makan. Banyak hal yang beda di lapangan tapi kita tolerir. Ini semua masalah furuiyah. Saat ditanyakan kepada beliau: “Dengan komposisi ormas Islam “ekstrem” dan “tidak toleran” di MUI, apakah fatwa yang dikeluarkan oleh MUI itu tidak bias sehingga terkesan tidak hati-hati? Di antara organisasi tersebut ada yang menggunakan kriteria sesat untuk menyerang kelompok lain yang sebenarnya tidak sesat”. Prof. KH. Umar Shihab menjawab : “Mereka tidak boleh memberi interpretasi sendiri. Interpretasi itu hanya dari MUI.  Termasuk dalam rakernas baru-baru ini. Kita tidak perlu mempermasalahkan khilafiyah karena tidak ada hakim yang bisa memutuskan yang mana yang benar. Kita serahkan kepada Allah di hari kemudian nanti”.

Prof. Umar Shihab lebih jauh menjelaskan : “Ada kerangkanya. Dia harus percaya bahwa Allah Swt itu Esa, Nabi Muhammad saw adalah rasul dan nabi terakhir, Al-Quran itu adalah kitab suci. Intinya yang ada di rukun Iman. Begitu juga dengan rukun Islam, adalah prinsip bahwa shalat itu lima kali sehari, puasa Ramadhan, haji ke baitullah. Kalau bertentangan dengan rukun iman dan Islam maka ia bisa dianggap sesat. Kita anggap Lia Aminuddin sesat karena menganggap dirinya mendapat wahyu dari Jibril. Nah, masih banyak lagi kelompok yang sekarang masuk kajian MUI. Tapi kita tidak pernah anggap sesat masalah khilafiyah. Keyakinan memang tidak mungkin diadili. Tapi yang mungkin diadili adalah orang-orangnya karena dia melakukan dan percaya pada suatu keyakinan yang bertentangan dengan ajaran agama. Misalnya satu golongan, kita anggap sesat karena dia meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Tapi sampai sekarang prosesnya belum selesai karena mereka sudah terlanjur mendapatkan izin sebagai yayasan, sebagai organisasi. MUI tidak penah berbicara tentang mazhab. Bagi kami di MUI, masalah khilafiyah itu adalah suatu rahmat. Kita tidak mau kembali lagi ke masa lalu di mana perkelahian dan pembunuhan mudah terjadi hanya karena perbedaan mazhab. Masalah mazhab tidak bisa di selesaikan. Biarlah Allah Swt yang mengadilinya. MUI tidak menganggap bahwa salah satu mazhab itu benar. Kita berdiri di semua pendapat bahwa semua mazhab itu benar.

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

One Comment on “SESAT DAN ASING ADALAH DUA KATA YANG BERBEDA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.