Perspektif Dakwah LDII

manshur-pribadi-ldii-kota-cirebon
Advertisements

 PERSPEKTIF DAKWAH LDII

 Oleh:

drs-h-manshur-pribadi-M.Ag

 Drs. H. Mansyur Pribadi, M. Ag

 Ketua DPD LDII Kota Cirebon

PERSPEKTIF Dakwah LDII sejak berdirinya dan seterusnya ke depan selalu berdasarkan kepada berbagai kisi-kisi pelaksanaan dakwah Islam di Indonesia, yang selama ini juga dilakukan oleh mainstream umat Islam, di antaranya:  Konsep dakwah dalam Islam,  definisi dakwah, tujuan dakwah, keutamaan dakwah, tahapan dakwah dan akhlak Da’i.

Perspektif dakwah yang  dilakukan  di  Indonesia,  dan  fiqih dakwah dalam mempersatukan  umat  Islam  menuju  tercapainya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Oleh karena itu, LDII dalam melaksanakan dakwah Islam berpegang pada pedoman dasar  dakwah.

Konsep Dakwah Islam.

Secara konseptual, dakwah adalah salah satu metode dalam pendidikan Islam. Dalam sejarah Islam, pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam penyiaran Islam. Pendidikan Islam merupakan mediator agar ajaran dan nilai-nilai Islam dapat difahami, dihayati, dan diamalkan oleh umat di setiap aspek kehidupan. Dapat dikatakan, bahwa pendidikan Islam merupakan pilar utama dalam upaya mengajak umat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Menurut Nadzmi Akbar (2006), pendidikan yang sifatnya memperhatikan hubungan horizontal (dakwah bil-hal), yaitu memperhatikan masyarakat sebagai obyek dakwah, justru lebih berhasil dari pada dakwah yang hanya semata-mata memperhatikan hubungan vertikal dengan sang Pencipta. Model dakwah bil-hal itulah,   yang justru lebih berhasil dan menarik perhatian umat.

LDII mencoba meneruskan konsep pembelajaran (mengaji), yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits, sebagai pondasi untuk berkiprah dalam pelaksanaan dakwah bilhal, yang senantiasa mengajak umat berilmu dan beramal.

Sejarah Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan dakwah, Ia tidak hanya bertabligh dengan retorika yang indah, mengajar, atau mendidik dan membimbing, tetapi juga sebagai uswatun hasanah, (Prodjokusumo:1997).

Dakwah Nabi dalam periode Makkah. penuh dengan pengorbanan baik raga, harta benda, bahkan jiwanya terancam akibat percobaan pembunuhan. Termasuk fitnah berupa ejekan, cemooh, cercaan, penderitaan, karena dikucilkan dan sebagainya. Demikian pula dalam periode Madinah, para sahabat dan para pengikut Nabi, mereka bekerja keras dalam berbagai sektor kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Orang-orang Anshor sebagian memberikan tanahnya, ternaknya, hartanya, kepada orang-orang Muhajirin yang telah kehabisan bekal.

Bila bercermin pada sejarah Nabi Muhammad SAW, beliau telah memberikan suri-tauladan dalam hidup, dan dalam melakukan dakwah, beliau senantiasa menunjukkan kesatuan kata dengan perbuatan.

Definisi Dakwah Islam

a. Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain, supaya menganut, mengikuti, menyetujui, atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut “Da’i” sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut “mad’u”. Setiap muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah “Da’i”.[1]

b. Tujuan utama  dakwah  ialah  mewujudkan  kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhai oleh Allah

Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada ummatnya dengan berbagai carat melalui lisan, tulisan, dan perbuatan. Dimulai dari istri, keluarga, dan teman-teman karib, hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi Muhammad SAW adalah Kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukia dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).

c. Tujuan dakwah adalah (1) mengeluarkan manusia dari gelapnya kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas dan Di samping itu, juga membimbing mereka kepada kebenaran, sehingga mereka mengetahui dan mengamalkan ajaran Islam. Pada akhimya, mereka selamat dari api neraka dan kemurkaan Allah; (2) mengeluarkan orang kafir dari gelapnya kekufuran, kepada cahaya iman dan petunjuk; mengeluarkan orang jahil dari kegelapan kebodohan kepada cahaya ilmu, dan mengeluarkan ahli maksiat dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan. Inilah seluruh tujuan dakwah:

Firman Allah: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Nan). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2:257)

d. Fiqhud-dakwah : Ilmu yang memahami aspek hukum dan tata cara yang berkaitan dengan dakwah, sehingga para muballigh bukan saja paham tentang kebenaran Islam, akan tetapi merekajuga didukung oleh kemampuan yang baik dalam menyampaikan risalah al Islamiyah.

e. Dakwah Fardiah : Dakwah fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).

f. Dakwah Ammah. Dakwah ammah merupakan jenia dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka.

Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato). Dakwah animah  ini  kalau  ditinjau dari  segi  subyeknya, dilakukan oleh perorangan  dan  dilakukan  pula  oleh  organisasi  tertentu,  yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.

g. Dakwah bil-Lisan. Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). Dakwah jenia ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah Jummat atau khutbah hari raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

h. Dakwah  bil-Hal,     Dakwah  bil-hal  adalah  dakwah  yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ihwal si da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah SAW tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan dakwah bil-hal ini dengan mendirikan Masjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

i. Dakwah bit-Tadwin. Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari  dakwah model  ini tidak menjadi musnah meskipun sang Da’i, atau Penyusunnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwin ini Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.

j. Dakwah bil-hikmah. Dakwah bil-hikmah, yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bil-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif. Dalam kitab al-Hikmah Fi al Dakwah Ilallah ta’ala oleh Said bin Ali bin Wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara lain : (i) menurut bahasa: adil, ilmu, sabar, kenabian; memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan; ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama; obyek kebenaran (al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal; pengetahuan atau ma’rifat; (ii) menurut istilah Syar’i: valid dalam  perkataan  dan  perbuatan,  mengetahui  yang  benar  dan mengamalkannya, wara’ dalam dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.

Tahapan Dakwah

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang Iebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 16:125)

Berdasarkan Firman Allah tersebut diperlukan tahapan dakwah dan ada tiga bagian menurut keadaan mad’u (objek dakwah), sebagai berikut:

  1. Orang yang mencari dan cinta kebenaran, dia akan lebih mementingkan kebenaran daripada yang lainnya, kalau dia mengetahuinya. Maka orang seperti ini diseru dengan al-hikmah (ilmu), tidak membutuhkan pengarahan ataupun bantahan.
  2. Orang yang sibuk  dengan   sesuatu  yang  menyelisihi kebenaran,  tapi  kalau  dia mengetahuinya maka dia akan mengikutinya.  Maka orang yang seperti  ini membuuhkan mau’izhah (pengarahan) berupa kabar gembira dan ancaman.
  3. Orang yang menentang dan berpaling dari kebenaran. Maka orang semacam ini dibantah dengan cara yang baik, kalau-kalau dia mau ruju’ (kembali kepada kebenaran).

Tahapan dakwah termasuk dalam rangka berdakwah dengan ilmu, bukan dengan kebodohan. Tahapan dakwah adalah sebagai berikut:  Dimulai dari (1)  perkara yang paling penting (yakni tauhid), dengan masalah yang mudah dicerna dan dipahami, serta dengan cara yang lemah lembut. Tetapi, apabila cara ini tidak berhasil, (2) gunakanlah metode berikutnya yaitu mau’izhah hasanah (pengarahan yang baik). Cara ini disertai dengan targhib (kabar gembira) dan tarhib (ancaman). Tetapi jika mad’unya merasa dirinya benar atau dia penyeru kepada kebatilan, maka (3) bantahlah dia dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tepat yang membuat dia mau memenuhi panggilan dakwah.

Berdasarkan Anonim, 2005,  Syeikh Mustaffa Masyhur dalam bukunya yang berjudul Thariq Fi Ad-Dakwah (Jalan Dakwah) menyebut tiga tahap dakwah, yaitu:

a) Taarif (pengenalan) – Tahap ini adalah untuk memperkenalkan, menyampaikan ide-ide, gagasan atau untuk menggambarkan kepada masyarakat atau khalayak sasaran (mad’u) tentang dakwah yang hendak disampaikan.

b) Takwin (pembinaan/pembentukan) – Tahap pembentukan, pembinaan pendakwah dan pemantapan pesan yang disampaikan.

c) Tanfiz (pelaksanaan) – Tahap beramal, berusaha dan melaksanakan dakwah agar sesuai dangan aturan pelaksanaan peribadahan atau amalan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan tiga tahapan dakwah tersebut, ternyata dakwah adalah perjalanan yang panjang dan berliku. Untuk itu, para Da’i atau individu atau organisasi yang bergerak dalam kegiatan dakwah perlu menyiapkan diri  dengan  baik,  dan bukan hanya sekedar melaksanakan atau menggugurkan kewajiban dakwah karena dalam perjalanan tersebut Da’i akan menghadapi pelbagai rintangan dan ujian, yang tidak terduga atau kadang-kadang di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya.

Tahapan dakwah itu merupakan bagian dari Strategi Dakwah agar dakwah dapat efektif dan efisien. Penjelasan lebih luas tentang strategi dakwah adalah sebagai berikut:

Menurut Muchlisin (2009), Strategi dakwah merupakan hal yang sangat urgen  untuk  dikuasai  oleh  organisasi  dakwah  Islami.  Sebelum merumuskan strategi dakwah dalam aspek aplikasi, perlu terlebih dahulu dipahami kaidah dan rambu-rambunya.

Strategi termasuk mutaghayyirat : Strategi dakwah termasuk  mutaghayyirat (hal-hal yang bisa berubah, fleksibel, dan tidak paten). Maka Da’i dan gerakan dakwah mendapatkan kelonggaran untuk melakukan  inovasi  padanya sesuai  dengan perkembangan zaman. Misalnya pada pemanfaatan media dan teknologi. Dulu di zaman Rasulullah tidak pernah ada dakwah dengan multimedia atau via internet karena memang belum ada teknologi semacam itu.  Juga  Rasulullah bersabda :  Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu” (HR. Muslim, Juz 4 hlm.1836).

Adapun  kewajiban dakwah dan tujuan dakwah sifatnya tsawabit, permanen. Maka, sampai kapanpun dan teknologi secanggih apapun, dakwah tetap wajib dan tetap.

Maka, yang menjadi pertimbangan dalam merumuskan strategi dakwah adalah bagaimana efektivitasnya dalam mencapai tujuan dakwah. Da’i atau gerakan dakwah bebas berkreasi menentukan strategi asalkan ia efektif Yang tidak patut dilakukan adalah ketika strategi itu justru kontraproduktif bagi tujuan dakwah.

Strategi Dakwah bukan termasuk ibadah (mahdhah). Strategi dakwah apapun  pada  awalnya  diperbolehkan,  dan  tentunya  diprioritaskan berdasarkan  efektifitasnya  dalam  mencapai  tujuan dakwah.  Yang kemudian menjadi batasan adalah aturan-aturan syar’i. Artinya, strategi apapun boleh diterapkan sepanjang ia tidak melanggar syariat Islam. Maka, tidak boleh dilakukan sebuah strategi dakwah meskipun tujuannya baik,  namun bertentangan dengan syariat Islam. Wallahu “alam.

[1] Sumber: id.wikipedia.Org/wiki/Dakwah- (Diolah oleh Penyusun)

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.