PERSPEKTIF DAKWAH LDII (KRITERIA AKHLAK DA’I) – 3

drs-h-manshur-pribadi-M.Ag
Advertisements

PERSPEKTIF DAKWAH LDII

(KRITERIA AKHLAK DA’I)

Oleh :

drs-h-manshur-pribadi-M.Ag 

Drs. H. Mansyur Pribadi, M. Ag

Ketua DPD LDII Kota Cirebon

 Dalam perjalanan hidup ternyata manusia banyak yang tersesat, bodoh, zalim, munafik dan lain sebagainya, hal tersebut disebabkan manusia tidak mampu menahan godaan dan ujian. Allah telah memberitahukan hal tersebut dalam Surat Al-Insaan (76) ayat : 2  Yang artinya: “Sesungguh Aku meciptakan manusia itu dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat (Surat Al-Insaan Ayat 2).

Fitrah manusia akan berkembang jika manusia selalu melakukan hubungan dengan Allah, untuk itu manusia hares mengaktifkan ruh untuk selalu berdekatan dengan Allah, sehingga aktivitas apapun semua bersumber pada ilham dari Allah semata. Jadi dalam hal ini aktivitas pendidikan harus berupaya mengaktifkan ruh untuk menarik potensi-potensi lainnya menuju Allah SWT.

Seluruh  proses  pendidikan  Islami  harus  menjadikan  struktur kepribadian Muslim sebagaimana tergambar di atas, ketika ruh selalu ingat dan berkomunikasi dengan Allah, maka dia akan menarik potensi rasa menuju Allah sehingga termanifestasi rasa kasih saying dan cinta

Rasa menarik qalbu sehingga termanifestasi hidup yang bermakna dan berguna bagi diri sendiri, orang lain dan lingkungan secara lebih luas. Qalbu menarik akal, agar selalu mempergunakan akal pada hal-hal yang   benar. Sehingga akal mampu memenej hawa nafsu ke arah  Allah sehingga berkembang menjadi tawadhu. Dengan demikian akan terbentuk seorang individu yang Islami, ikhlas dan gemar beribadah.

Suasana psikologia yang ditarik ke bawah (nafsu) pada pada setiap tingkatan  mempunyai  konsekwensi  negatif,  yang  menjauhkan manusia dari Allah, secara aplikatif individu yang bersangkutan berorientasi kepada pemenuhan hawa nafsu. Apapun akan dilakukan tanpa batas norma agama.

Pendidikan Untuk Keselamatan Pragmatisme  dan  materialisme  melanda  hampir  semua aspek kehidupan,  sebuah paham yang menjebak ummat agar selalu berorientasi pada kehidupan dunia, hal tersebut digambarkan Allah sebagaimana firman-Nya:  “Kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14)

Sehingga dalam kehidupan di dunia, ummat Islam terkadang meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam, untuk mencapai kesenangan dunia. Dalam beberapa kasus ada seorang muslim yang taat beribadah. Tetapi juga begitu mudahnya melakukan perbuatan mungkar, hal tersebut terjadi karena kepribadiannya tidak terbentuk sebagai pribadi seorang muslin. Untuk itulah diperlukan kegiatan pendidikan untuk membentuk kepribadian atau muslim yang seutuhnya, tangguh dan teguh memegang ajaran Islam.

Aspek yang sangat urgen dilakukan dalam pendidikan Islam adalah membentuk aspek jiwa agar selalu mendapat ketenangan:Hal jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya) dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89:27-30)

Untuk mencapai ketenangan jiwa, sistem pendidikan Islam harus mengandung unsur-unsur:

(i) abdillah,    (ii) berpegang pada Al Quran, Al Hadits, (iii) Nabi sebagai panutan, (iv) berkah/bermakna. (v) selalu sholat, (vi)  berzakat, (vii) menghormati orangtua, dan (viii) tidak sombong ( Q.S. 19: 30-32).

Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.      (QS. 19:30); dan Dia menjadikan aku seorang yang berbakti di many saja aku berada, dan Dia memerintahkan   kepadaku (mendirikan)   shalat   dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, (QS.19:31). dan berbakti kepada ibuku, dan Dia lidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (QS. 19:32)

Penjelasan:

(i) Manusia sebagai abdillah (hamba Allah) ; semua yang terlibat dalam pendidikan islam harus menanamkan dalam diri sebagai ‘abid. Sebagai ‘abid seorang individu dengan keyakinannya mangakui ke-Esaan Allah (lihat Q.S. 112), sehingga yang bersangkutan akan terhindar dari kesyirikan, hidupnya hanya untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah (Q.S. Al Ihlas Ayat 56). Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51:56)

Manusia sebagai abid diwujudkan dalam tiga keharusan yakni kerendahan   diri   kepada-Nya,   yang   menciptakan   tujuan beribadah; selalu mentaati perintah-Nya, dan menunjukan kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Karena manusia sebagai ‘abid diberi berbagai potensi untuk berilmu pengetahuan, maka ia disuruh beribadah kepada-Nya. (Maragustam, 2003 : 10).

(ii) Berpegang pada Al Qur’an dan Al Hadits: Artinya segala kegiatan pendidikan baik itu sistem maupun tujuannya harus didapat dari akar ajaran Islam itu sendiri melalui Al Qur’an dan Al  Hadits  dan mempelajari berbagai tulisan-tulisan ulama pemikir Islam, tidak diambil dengan meniru budaya Barat atau Timur yang belum tentu sesuai dengan ajaran Islam berdasarkn Firman Alloh SWT pada Surat Al Baqarah ayat 177

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman  kepada Allah,  Hari Kemudian,  Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang  miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. (QS. 2.177)

(iii) Nabi Muhammad sebagai panutan: Prinsip Nabi adalah membawa berita atau informasi Ilahiah bagi orang lain.  Segala sesuatu yang disampaikan adalah kebenaran yang menuntun keselamatan hidup di dunia dan akhirat.

(iv) Hidup berkah dan bermakna: Hidup berkah dan bermakna

mempunyai pengertian yang sangat lugs, sebagai manusia yang diciptakan Allah yang sempuma memiliki potensi fisik dan psikia harus punya peran yang strategic sebagai pemakmur kehidupan di bumi, itulah makna kehidupan manusia dalam perspektif duniawi.  Ketinggian derajat manusia menjadikan dirinya, mempunyai  tanggung jawab lebih berat.  Amanah tanggung jawab untuk menjadi khalifah yang telah ditawarkan kepada  langit,  bumi,  dan  gunung-gunung.  namun mereka menolaknya. Kemudian manusia menerima amanah tersebut (Q.S 33 : 72), sebagai berikut:

Sesungguhnya Kami (Allah) telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)

Ini menunjukan bahwa manusia secara potensial dan keilmuan mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan tersebut. Tugas khalifah  adalah  memakmurkan  bumi  dan mengembangkan amanat risalah serta menegakkan segala amal yang mengandung kemaslahatan. Kebaikan dan kebenaran. Sebagai sumbu atau poros kekhalifahan ialah mengg nakan akal, pemikulan tugas samawi, pelaksana amanah melalui jalur ilmu pengetahuan yang dipelajari seseorang, realisasi pemahaman, dan kemampuan membedakan antara yang buruk dan yang baik (Abdul Fatah Jalal, 1977: 3).

Tugas kekhalifahan ialah memakmurkan bumi dengan amal dan aktivitas yang berdasarkan manhaj (kurikulum)   Allah.

Pembebanan manusia menjadi  khalifah tentu telah Allah persiapkan sedemikian rupa. Untuk itu, Allah memberikan fitrah yang baik atau potensi-potensi yang dapat dikembangkan (Q.S. At-Tiin (95) ayat 1-4; QS Ar-Ruum (30) ayat 30, jasmani-rohani. kebebasan berkehendak dan berbuat, dan dianugerahkan akal sehingga manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan juga sebagai makhluk berbudaya (Maragustam 2003 : 14).

Maka  hadapkanlah  wajahmu  dengan  lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. 30:30)

Maka sebagai khalifah pemakmur bumi manusia berkewajiban menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan menjadi pionir pengembangannya.

(v)   Mendirikan Sholat. Prinsip sholat adalah mengajarkan kepada manusia secara fisik dan psikis selalu sujud dan tunduk kepada Allah. Sujud dan tunduk dimanifestasikan dalam segala kegiatan dan  aktivitas  manusia,  tidak hanya secara formal  ketika melakukan sholat.

(vi)   Menunaikan Zakat. Prinsip zakat mengajarkan untuk mengayomi orang yang tidak mampu, menolong orang-orang yang masih berada di bawah, baik ditinjau dari ekonomi, ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaqwaan.

(vii) Berbakti kepada orang tua. Dalam ajaran islam. Orang tua harus dimuliakan, kapanpun dan di manapun. Oleh karena itu maka bakti kepada orang tua merupakan sesuatu yang niscaya dan harus dilakukan oleh siapapun

(viii) Rendah hati/tidak sombong.  Apapun yang didapat dari kegiatan pendidikan justru menjadikan individu rendah hati/ tidak sombong. Karena sernakin banyak dan tinggi ilmu didapat semakin banyak kekurangan yang tampak pada diri kita.

Kegiatan pendidikan dalam perspektif dakwah dapat dilakukan secara kolektif maupun secara individual.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung”. (QS.3:104)

Pendidikan sebagai strategi dakwah, idealnya diselenggarakan dengan kolektif dan individual.   Kolektif dalam arti pendidikan ditinjau sebagai  sistem  yang  melibatkan berbagai komponen misalnya; pendidik,  anak didik,  metode,  lingkungan, kurikulum, metode, manajemen.

Pendidikan individual ditinjau dari interaksi antara pendidik dan anak didik. (orangtua dengan anak). Pihak-pihak pelaksana pendidikan Islam, harus memiliki kualitas kepribadian sebagai berikut; beriman, amal shalih, ikhlas,  sabar,  teguh pendirian, rela berkorban, jujur, amanah, adil, kasih sayang, yang pada akhirnya teradopsi oleh anak didik.

Perspektif dakwah ke depan adalah dengan mengembangkan sistern manajemen pendidikan Islam, yang berlandaskan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Quran dan al-Hadits akan tercapai tujuan pendidikan Islam, sekaligus juga sasaran dakwah yaitu menciptakan manusia yang beriman dan taqwa, dan terbentuknya manusia yang kreatif, produtif, inovatif untuk mencapai kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut pendapat Wahyu (2003: 58) terbentuknya manusia kreatif (ajaran Islam dapat mendorong melakukan kerja produktif) dan inovatif (melandasi cita-cita dan amal perbuatan manusia dalam seluruh aspek kehidupan), sublimatif (ajaran Islam meningkatkan dan mengkuduskan fenomena manusia baik dalam hal keduniawian dan akhirat) dan integratif (agama Islam dapat mempersatukan sikap dan pandangan manusia serta aktivitasnya baik secara individu maupun kolektif, dalam menghadapi tantangan hidup).

Fiqih Dakwah

Pengertian dakwah dalam Islam berdasarkan figih dakwah adalah dakwah  yang  menuju  suatu  anjuran  atau propaganda tentang persatuan ummat Islam. Hanya dengan bersatu maka di situ ada kekuatan.

Ada ciri khas yang menonjol dari ummat Islam yaitu ummat tauhid dan satu kesatuan. Sejarah telah memperlihatkan dengan jelas, bahwa ummat Islam tidak akan dapat bersatu kecuali saat mereka berpegang teguh pada akidah tauhid yang benar. Sebesar penyimpangan mereka terhadap ajaran tauhid yang benar, sebesar itu pula yang membuat ummat ini berpecah-belah

Sesungguhnya  (agama tauhid)  ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku(QS. 21:92)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini,  adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)

Al-Qur’an selalu mengingatkan ummat Islam tentang hakikat sebagai ummat yang satu yaitu ununat yang hams berjamaah dalam satu kesatuan: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat Petunjuk. (QS. 3:103)

Allah mengingatkan orang-orang yang beriman tentang orang-orang kafir yang berpecah belah, dan anjuran agar tidak mengikuti mereka:  Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah)   kepada   Allah,   kemudian   Allah   akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. 6:159)

Sesungguhnya   syaitan   itu   bermaksud  hendak  menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah  dan  shalat;  maka  berhentilah  kamu (dari  mengerjakan pekerjaan itu). (QS. 5:91)

Tidak sedikit orang-orang, dari luar maupun dari dalam, yang menghalangi ummat Islam untuk bersatu balk. Dari dalam, orang-orang munafik berusaha sekuat tenaga untuk memecah belah orang beriman dengan memunculkan permusuhan dan perpecahan: Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28:4)

Begitulah perilaku orang-orang kafir sejak dulu;  dengan berbagai cara dan media yang dimiliki berusaha mengacaukan dan memecah belah  ummat  Islam  sebelum  mencapai  tujuan  akhir mereka menguasai orang-orang beriman dan mengajak kepada kemungkaran.

Ukhuwah Islamiyah

Dengan tauhid dakwah, kegiatan dakwah berupaya mempromosikan syariat, akhlaq, dan muamalah dalam  Islam mengokohkan ikatan ukhuwah Islamiyah. Penguatan lima rukun Islam semuanya memiliki nuansa persatuan Islam dalam ukhuwah imaniyah. Kaum muslimin di manapun ia berada pasti akan mentaati sepenuhnya kepada syariat dan ajaran Tuhan Yang Maha Esa:    Maka demi Tuhanmu,  mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. 4:65)

Ummat Islam juga tunduk dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW, dan taat kepada pemimpin mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya:Hai  orang-orang yang  beriman,  taatilah  Allah  dan  taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Karena itu, Islam meletakkan kaidah-kaidah akhlak dan iman untuk menjaga keutuhan   ukhuwah   Islam.   Islam mengajarkan ummatnya untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, serta meninggalkan kerjasama dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Rasulullah saw. Bersabda:“Perumpamaan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka dan kelembulan mereka seperti tubuh yang satu. Apabila bagian tubuh yang satu  mengeluh  kesakitan,  maka seluruh tubuhnya merasakan demam dan tidak bisa tidur. ”

Islam memerintahkan orang beriman untuk mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang sengketa:“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu rnendapa!rahmal. (QS. 49:10)

Islam juga menetapkan beberapa kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya. Rasulullah saw. Bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Janganlah seorang muslim menzalimi  saudaranya dan janganlah seorang muslim membiarkan, tidak menolong saudaranya. Barang siapa yang membantu menuntaskan keperluan saudaranya, maka Allah akan membantu keperluannya. Barang siapa yang melapangkan kesempitan saudaranya, maka Allah akan melapangkan satu kesulitannya nanti di hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat“.

Untuk tujuan ukhuwah Islam, Islam melarang segala yang dapat merusak ukhuwah.  Rasulullah saw. Bersabda: “Janganlah kalian saling hasut  dan jangan pula saling mencari-cari kesalahan serta janganlah kalian saling membenci dan saling menjauhi. Janganlah seorang muslim membeli barang yang telah ditawar saudaranya. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk hanya lantaran ia mengejek saudaranya sesama muslim. Seorang muslim atas muslim lainnya itu terpelihara nyawanya, hartanya, dan kehormatannya.

Dan  hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan,  menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104)

Ukhuwah Syarat Kejayaan Islam

Sesungguhnya   hanya   dengan  merealisasikan  ukhuwah  yang merupakan syarat tercapainya kemenangan (kejayaan) Islam: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. 61:4)

Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan seizin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan  kamu  dari  mereka  untuk  menguji  kamu;  dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan).(*)

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

2 Comments on “PERSPEKTIF DAKWAH LDII (KRITERIA AKHLAK DA’I) – 3”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.