PERSPEKTIF DAKWAH LDII (KRITERIA AKHLAK DA’I) – 2

PERSPEKTIF DAKWAH LDII
(KRITERIA AKHLAK DA’I)

Bagian 2

Oleh :

drs-h-manshur-pribadi-M.Ag

Drs. H. Mansyur Pribadi, M. Ag
Ketua DPD LDII Kota Cirebon

PERSPEKTIF DAKWAH LDII (KRITERIA AKHLAK DA’I) BAGIAN 2

AKHLAK seorang Da’i yang baik, dapat diketahui dari kriteria yang diberikan oleh Syaikh bin Bazz dalam kitabnya Fadhlud Dakwati hal. 32-34 (lihat referensi yang didapat Penyusun dari www.cahayamuslimah.com/blog/135) adalah sebagai berikut:

a. Da’i harus ikhlas dan berilmu. Pertama, wajib atas seorang Da’i untuk ikhlas karena Allah (di dalam berdakwah), tidak riya’, sum’ah (cari popularitas) ataupun pujian orang, kedua, wajib bagi setiap Da’i untuk memiliki ilmu tentang apa yang dia dakwahkan dan melihat dalil-dalilnya (untuk alat berhujah), maka apabila telah jelas bagi dia kebenaran dan dia mengetahuinya maka dia dakwahkan, apakah itu berbentuk perbuatan ataupun sesuatu yang dilarang untuk dikerjakan. Sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. 12:108)

Menurut Muslim Astsari (2009), seorang Da’i harus mempunyai mempunyai ilmu dari apa yang dia dakwahkan, karena orang jahil tidak berhak untuk menjadi Da’i. Allah berfirman: “Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. 12:108)

Kemudian melaksanakan dakwah itu harus ikhlas, karena pada dasarnya seorang Da’i harus memumikan niatnya untuk mengajak kepada agama Allah, semata-mata mencari ridha-Nya, bukan mengajak kepada nafsu diri sendiri, kehendak kelompok, atau pendapat dan pikirannya sendiri. Juga tidak dengan that untuk mengumpulkan harts, meraih jabatan, mencari suara, atau tujuan dunia lainnya. Rasulullah bersabda”)Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenia amalan kecuali yang murni (ikhlas) untuk-Nya dan untuk mencari wajah-Nya. (HR Nasa-i, no.3140).

Oleh karena itulah, Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak meminta upah dalam menyampaikan Al Qur’an, Allah berfirman: Katakanlah:”Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Qur’an)”. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala ummat”. (QS Al An’am : 90).

Karena, jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta upah, maka hal itu akan menyebabkan ummat menjadi keberatan dan menjauh.

Dakwah dengan tanpa meminta upah, itu merupakan bukti kebenaran dakwah tersebut. Allah Azza wa Jalla mengisahkan tiga Rasul-Nya yang diutus bersama-sama, kemudian semuanya diingkari oleh kaum mereka. Selanjutnya:

Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota dengan bersegera, ia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tidak meminta upah (balasan) kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS Yasin : 20-21).

Nabi-nabi zaman dahulu juga tidak meminta upah kepada kaum mereka. Allah Azza wa Jalla memberitakan bahwa Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Syu’aib -‘alaihimus salam- berkata kepada kaumnya masing-masing: “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu was ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”. (QS Asy Syu’ara’ ayat 109 127, 145, 164, 180).

Namun, jika seseorang berdakwah dengan benar dan ikhlas, kemudian dia diberi harta, sedangkan dia tidak mengharapkannya dan tidak memintanya, tujuannya hanyalah berdakwah, baik dia mendapatkan harts itu atau tidak, maka insya Allah — apabila menerima, tidak mengapa. Umar Radhiyallahu’anhu berkata : “Dahulu Rasulullah memberikan pemberian kepadaku, kemudian aku mengatakan: “Berikan kepada orang yang lebih miskin daripadaku, ” maka Beliau bersabda, “Ambillah itu! Jika datang kepadamu sesuatu dari harta ini, sedangkan engkau tidak memperhatikan (yakni mengharapkan, Pen) dan tidak meminta,
maka ambillah itu! Dan yang tidal, maka janganlah engkau mengikuti hawa-nafsumu terhadapnya!” (HR Bukhari, no. 14734).

Dengan demikian maka sepantasnya seorang Da’i juga memiliki pekerjaan dan usaha untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga dia tidak menggantungkan kepada ummat. Karena sesungguhnya makanan terbaik yang dimakan oleh seseorang ialah hasil keringatnya sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidaklah seorangpun memakan makanan sama sekali yang lebih baik daripada dia makan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Dawud, dia makan dari pekerjaan tangannya”. (HR Bukhari, no. 2072).
Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sehingga seseorang berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah, dan kesabaran. Tidak berdakwah dengan bid’ah dan kemaksiatan.

Karena Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam merupakan panutan terbaik bagi ummat Islam dalam segala perkara, termasuk di dalam berdakwah menuju agama Allah, berdasarkan firman Allah:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hart kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. 33:21)

b.Ramah dan lemah lembut di dalam berdakwah: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QSAn-Nahl: 125)

c. Mengamalkan dan menjadi suri teladan yang baik dari apa yang dia dakwahkan. Tidak seperti orang yang mendakwahkan sesuatu kemudian dia meninggalkannya atau melarang sesuatu kemudian dia malah mengerjakannya. Sebab, ini adalah keadaannya orang-orang yang merugi. Firman Allah:”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat”.(QS Ash Shaf 2-3)

d. Dakwah harus menurut skala prioritas, yaitu memulai dari yang terpenting kemudian yang penting (berikutnya). Memulai dengan perbaikan aqidah, dengan memerintahkan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan melarang dari perbuatan syirik. Kemudian juga memerintahkan shalat, zakat, amalan-amalan wajib dan melarang dari perkara-perkara haram yang lainnya. Sebab, inilah jalan yang ditempuh oleh para Rasul.: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu, maka di antara ummat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumf dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul)”. (QS.16:36)

Sejarah perjalanan dakwah Rasulullah Shallallahu`alaihi wa sallam merupakan contoh yang baik dan manhaj dakwah yang paling lengkap, karena beliau Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wa sallam tinggal di Mekkah selama 13 Tahun untuk (1) menyeru ummat manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari perbuatan syirik; kemudian baru (2) menyeru kepada shalat (lima waktu), zakat, puasa, dan haji; (3) setelah itu melarang mereka dari zina, riba, mencuri, dan bunuh diri.

e. Bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya dalam berdakwah ke jalan Allah. Seorang Da’i harus sabar dalam berdakwah karena perjalanan dakwah tidak selamanya mulus dan tidak semudah yang dibayangkan. Jalan dakwah itu penuh dengan rintangan dan marabahaya. Contoh-contoh Da’i yang baik tentu saja adalah para Rasulullah Shalawatullah wa salamuhu alaihim. Allah berfirman:“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. Tak ada seorangpun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu”. (QS.Al-An’am: 34).

f. Berbudi pekerti yang luhur dan menggunakan hikmah dalam dakwahnya. Dengan cara ini, dakwah sering kali lebih mudah diterima. Dan ini sesuai pula dengan apa yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, ketika mereka berdakwah kepada Fir’aun, orang yang paling kafir di muka bumi saat itu, karena mengaku sebagai Tuhan; Allah berfirman: “Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. ” (QS Thaha: 44)

g. Bertekad bulat dengan cita-cita yang kuat. Seorang Da’i tidaklah boleh putus asa dalam berdakwah dan tidak pula boleh putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, walaupun ia telah berdakwah dalam jangka waktu yang lama. Cukuplah bagi dia, para Rasul sebagai suri teladan. Ingatlah bagaimana sikap Nabi Nuh yang selama 950 tahun menyeru kaumnya ke jalan Allah. Ingatlah pula apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu `alaihi wa salam ketika kaumnya dengan kejam menganiaya beliau, sampai-sampai beliau didatangi malaikat penjaga gunung yang meminta izin untuk menjatuhkan batu-batuan kepada mereka. Rasulullah pada saat itu hanya menjawab (yang maknanya): “Jangan, (biarlah) aku tangguhkan mereka. Mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari anak cucu mereka, orang-orang yang beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Keutamaan (Fadillah) Dakwah Menurut Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz (2008) tentang keutamaan dakwah sebagai berikut: a. Allah berfirman: “Siapakah yang lebih haik perkataannya daripada orang yang menyeru ke jalan Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim). ” (QS Fushshilat: 33)

Setelah membaca ayat ini, Hasan Al-Bashri berkata: “Orang ini adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. la adalah orang yang paling dicintai Allah. Allah kabulkan doanya dan menyeru manusia kepada apa yang (menyebabkan dia) dikabulkan doanya oleh Allah. Dan dia beramal shalih ketika dikabulkan doanya sambil berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim), maka orang ini adalah khalifah Allah.” (Abdul `Aziz bin Abdullah bin Baaz, 2008).

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.