MENIRU BLUSUKAN SANG KHALIFAH

mansyur-pribadi-blusukan-khalifah
Advertisements

MENIRU BLUSUKAN SANG KHALIFAH

 Oleh : Drs. H. Mansyur Pribadi, M.Ag

Ketua DPD LDII Kota Cirebon

mansyur-pribadi-blusukan-khalifah

Pasca Sang Khalifah Umar bin khattab RA dilantik menjadi khalifah ke tiga. Pada suatu malam, beliau menyamar menjadi seorang warga masyarakat biasa.   Kemudian beliau keluar menelusuri perkampungan, mengamati keadaan warganya. Hingga pada suatu malam, setelah rangkaian safari blusukannya dilaksanakan. Umar bin Khattab RA menyaksikan dengan mata kepala sendiri, subuah peristiwa yang sangat mengharukan dan belum pernah terjadi sebelumnya..

Adalah Khalifah bin Khattab RA, mendengar suara tangisan seorang anak pada tengah malam.  Mendekatlah Umar bin Khattab RA pada sebuah rumah dimana tempat anak yang sedang menangis itu. Ketika beliau masuk  ke dalam rumah sumber suara tangisan. Tak disangka, ada seorang ibu yang tengah  merebus tiga buah batu. Dengan begitu, terjadilah dialog mengenai mengapa ibu tega melakukan itu semua.

Mendengar alasan si ibu, mengapa Ia merebus tiga buah batu! Demi untuk menenangkan lapar si anak ibu. Ia berpura-pura memasak makanan (tiga buah batu) agar anaknya tenang. Namun, perut si anak yang lapar tidak bisa dibohongi, si anak itu merasa kesakitan hingga Ia menangis.

Segera, malam itu juga Khalifah ke tiga itu, pulang mengambil bahan makanan di Baitul Maal (Semacam bulog sekarang), untuk diberikan kepada ibu pemasak batu itu.

Di negeri, sedang tren model blusukan para pemimpin dan calon pemimpin ke kampung-kampung. Beranikah para pemimpin itu meniru model blusukan Khalifah ke tiga itu? Dari kisah berhikmah blusukannya khalifah Umar Bin Khattab RA, ada hikmah yang dapat dipedomani sebagai pelajaran model blusukan yang bermakna. Pertama, sang Khalifah tidak menunjukkan dirinya sebagai seorang pemimpin yang gila hormat dan minta dihormati.

Agar tidak diketahui oleh orang lain, Ia rela blusukan di malam hari, masuk keluar kampong tanpa pengawal yang mendanpinginya. Kedua, sang Khalifah tidak merasa gengsi melakukan suatu pekerjaan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin. Hal ini, sangat terlihat dengan segera memanggul sekarung gandum dari Baitul Maal dibawah ke rumah ibu pemasak batu itu.

Adakah para pemimpin masa kini yang blusukan, tidak hanya sekedar menunjukan empati dan simpati, tetapi juga langsung menunjukan aksinya. Katakanlah, ketika ada warga masyarakat yang curhat dan mengadukan persoalan yang sedang dihadapi, tanpa harus melewati urusan birokrasi yang bertele-tele, sebagaimana respon Khalifah kepada ibu dan anaknya yang kelaparan.

Pemimpin Harus Mengayomi

Indonesia membutuhkan sosok seorang pemimpin yang memiliki kriteria-kriteria pokok, yaitu yang bisa mengayomi, peduli dan mau tidak popular. Pemimpin seperti inilah yang didambakan oleh rakyat. Namun sebaliknya, yang terlihat adalah penyalahgunaan kekuasaan, saling menghujat, saling mencurigai dan masing-masing pihak merasa benar sendiri. Demonstrasi dan pengrusakan pasilitas umum sudah menjadi hal yang biasa. Kondisi seperti itu, aparat keamanan sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa.

Tuhan menciptakan umat manusia dalam jumlah yang cukup besar, tentu dengan calon-calon pemimpin yang banyak juga. Adalah sebuah keniscayaan dan kepastian, Sang Khalik akan melahirkan calon-calon pemimpin yang diharapkan oleh umat saat ini. Pertanyaannya adalah, kapan dan dimana keberadaannya sosok pemimpin tersebut, sebagaimana Sang Khalifah Umar bin Khattab RA.

Pemimpin yang banyak kita saksikan saat ini, adalah pemimpin yang sekedar memberikan pernyataan aspal (asli tapi palsu), tanpa membuahkan hasil yang dapat dirasakan langsung oleh rakyatnya.

Ketulusan, kebijakan dan keadilan hanya akrab dibicarakan oleh ustadz kepada para santrinya di pondok-pondok pesantren. Namun yang terjadi,  adalah praktik politik masa kini yang identik dengan kebohongan. Mereka melakukan kontrak politik dan hasilnya untuk kepentingan sesaat.

Tak hanya itu, sidang pengadilan tidak lagi berfungsi sebagai proses peradilan. Tetapi menjadi tempat pelanggengan kekuasaan. Ditambah lagi kekuasaan sebagai lahan mengumbar nafsu ketamakan, kebohongan pun dianggap hal yang biasa. Sehingga kejujuran menjadi hal yang asing, dan kebenaran menjadi sebuah kemustahilan. Yang pasti adalah, ketulusan, kebajikan, dan keadilan  mulai diasingkan.

Kebatilan dan ketidak adilan yang sudah mengkeristal di negeri ini, sangat diperlukan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab RA,  guna memberantas kebatilan dan tidak memberi kesempatan seorangpun untuk menampakkan pelanggaran hukum. Jika ada yang menampakkannya walaupun sedikit, hendaknya dihukum dengan hukuman yang setimpal, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Bila nurani kita masih berfungsi dan bekerja dengan baik, akal-pun akan tertata rapi. Dengan nurani dan akal yang sehat itulah, kita akan termotivasi untuk mengembalikan ketulusan, kejujuran dan keadilan.

Pemimpin adalah sosok yang diandalkan dalam suatu komunitas. Dia harus dihormati, dikagumi, dicintai, dan disayangi oleh rakyatnya. Tetapi, juga banyak pemimpin yang mendapatkan apresiasi yang sebaliknya. Mereka dihina, dibenci, dan direndahkan oleh rakyatnya. Maka tak heran,  jika sosok pemimpin dijadikan tolok ukur baik buruknya suatu komunitas yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin mempunyai kewajihan pokok, yaitu mengayomi dan memakmurkan rakyatnya. Oleh sebab itu, rakyat dalam memilih pemimpin harus selektif. Karena, kepemimpinan menyangkut kehidupan hajat orang banyak. Dalam memilih calon pemimpin harus ditelaah terlebih dahulu, apa potensi yang dimilikinya? Bagaimana kepribadiannya? Dan aspek-aspek lainnya.

Banyak kita temukan contoh-contoh pemimpin yang baik dan yang buruk, yang sukses dan yang gagal. Oleh karena itu, kita bisa bercermin pada sejarah. Sosok pemimpin seperti apa yang pantas menduduki kursi kepemimpinan. Presiden, adalah pemimipin tertinggi dalam sebuah negara. Jadi, nasib sebuah bangsa seperti Indonesia bangsa yang besar, nasibnya sangat ditentukan oleh Sang Pemimpin yang mampu mengayomi dan peduli kepada rakyatnya, sebagaimana Sang Khalifah Umar Bin Khattab RA. Semoga.

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

5 Comments on “MENIRU BLUSUKAN SANG KHALIFAH”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.