Menag Suryadharma Ali Bantah Sidang Isbat Telan Biaya 9M

Menag Suryadharma Ali Bantah Sidang Isbat Telan Biaya 9 Milyar

suasana sidang isbat penentuan Ramadan 1434 H

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali membantah berita yang menyebutkan bahwa anggaran untuk sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1434 H yang digelar pada Senin (8/7/2013) kemarin menghabiskan dana sebesar Rp 9 miliar. Demikian penjelasan yang disampaikan Kementerian Agama melalui siaran persnya, Rabu (10/07) terkait dengan adanya pemberitaan bahwa penyelenggaraan sidang itsbat menghabiskan biaya mencapai 9 miliar.

Hal senada dikatakan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag), Abdul Djamil, membantah pemakaian anggaran senilai Rp 9 miliar tersebut bahkan menyatakan keheranannya “darimana sumbernya?”

Djamil menegaskan untuk biaya sidang isbat ini menganggarkan biaya Rp142.478.000,-. (tidak sampai 1 milyar, apalagi angka 9 M). Dana sebesar Rp 142,5 juta itu digunakan untuk biaya pemantauan hilal di beberapa titik di Indonesia, biaya konsumsi, dan logistik termasuk transportasi para undangan, narasumber, dan panitia.

Jamil juga memastikan penggunaan dana bisa dipertanggungjawabkan dan sudah dirancang setahun sebelum pelaksanaan sidang. Bahkan audit pun dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Inspektorat Jenderal Kementerian setiap tahunnya.

Bantahan ini merupakan penjelasan atas kritikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin yang menyebutkan biaya pelaksanaan sidang isbat begitu besar, yakni diperkirakan mencapai Rp 9 miliar. Dana sebesar ini dianggap menghamburkan uang rakyat. Din menyayangkan besarnya biaya Sidang Isbat tersebut. Sebab, uang yang digunakan adalah uang rakyat, kata Din di Jakarta, Senin (8/7/2013).

Din mengusulkan pemerintah tidak usah menggelar sidang isbat, cukup mengadakan konferensi pers mengenai hilal yang belum mencapai 2 derajat, hingga akhirnya 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu. Jika hal itu diterapkan Kementerian Agama merupakan langkah yang bijak menurut Din Syamsudin. “Daripada menghabis-habiskan uang rakyat,” ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, PP Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan Selasa (9/7/2013) menggunakan metode hisab hakiki dengan dua kriteria.
Pertama, sudah terjadi ijtima atau konjungsi yaitu matahari dan bulan pada garis lurus yang menjadi tanda bulan berakhir. Kedua, pada sore harinya, ketika matahari tenggelam, bulan masih berada di atas ufuk atau cakrawala berapa pun derajatnya. “Seribu tahun yang akan datang kami sudah tahu awal Ramadhan. Ini sangat-sangat eksak secara ilmiah,” tuturnya.
Menag meminta agar masalah Sidang Isbat tidak diperluas atau dialihkan ke soal biaya. Kalaupun diperlukan dana hingga Rp 9 miliar, menurutnya, tidak menjadi masalah, mengingat menyangkut kepentingan masyarakat luas karena hasilnya ditunggu oleh jutaan umat Islam di Indonesia atas kepastian awal Ramadhan. Apalagi ternyata memang tidak menghabiskan dana sebesar itu.

Sidang itu sendiri dihadiri oleh 185 orang yang antara lain terdiri dari pimpinan/perwakilan: (a) Majelis Ulama Indonesia; (b) Komisi VIII DPR RI; (c) Kedutaan Besar Negara Sahabat; (d) Kementerian Agama; (e) Kementerian Kordinator Kesejahteraan Rakyat; (f) Kementerian Komunikasi dan Informatika; (g) Badan Hisab Rukyat; (h) Organisasi Kemasyarakatan Islam; (i) Boscha; (j) LAPAN; (k) Planetarium; (l) Badan Geospasial; dan (m) Pondok Pesantren.

Menteri Agama Suryadharma Ali menghimbau seluruh masyarakat Indonesia dapat menghormati perbedaan dalam penentuan awal puasa Ramadhan 1434 H dan tidak menjadikan perbedaan untuk memicu konflik.

“Yang puasa pada 9 Juli dan 10 Juli agar saling menghormati. Jangan perbedaan ini kemudian mengundang konflik satu sama lain, membuat perpecahan satu sama lain, dan akan lebih baik kalau kebersamaan itu dibangun,”

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.