Jokowi: “Ada Pihak yang Diuntungkan Bila Indonesia Tidak Maju”

jokowi-rapimnas-ldii

Tahun pemilu yang jatuh pada 2014 ini membuat LDII sebagai ormas Islam, tertarik untuk turut andil dalam mendukung suksesnya demokrasi di Indonesia. Tidak hanya itu, LDII berkeinginan pemimpin yang akan terpilih nanti haruslah sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kondisi Indonesia saat ini. Untuk itu, lewat Rapimnas 2014, Selasa (13-15/5) di Balai Kartini, Jakarta,  LDII memberikan masukan kepada para capres.

Setidaknya ada 16 poin yang disampaikan oleh Ketua DPP LDII, Ir. H. Chriswanto Santoso, M.Sc.hasil dari 8 focus group discussion  yang telah dilaksanakan dua bulan lalu. Chriswanto mengambarkan apabila Indonesia ini merupakan kapal, LDII sebagai penumpang harus menjaga stabilitas kapal, “Agar kami yang di dalammnya tidak mabuk. Mabuk karena goncangan kapal,” ujar Chriswanto.

Dalam penyampaian pesannya Chriswanto menjelaskan perlunya perbaikan proses demokrasi secara terus menerus dan berkesinambunagn, sehingga undang-undang yang dihasilkan dapat mendukung terlaksananya legitimasi etis di Indonesia. KPU juga dihimbau untuk melakukan pendidikan demokrasi dan politik di Indonesia sehingga rakyat dapat kembali percaya.

Selain itu, guna memberi dukungan stabilitas ekonomi negara, Chriswanto menghimbau perlunya perbaikan sistem pengelolaan sumberdaya alam yang bertujuan untuk kepentingan rakyat. Pihaknya juga menghimbau agar dibentuknya lembaga keuangan dan permodalan pertanian untuk mendukung stabilitas ekonomi. Tidak hanya sektor pertanian, LDII juga menghimbau pemerintah terpilih agar lebih perduli dalam hal peningkatan sektor maritim, mengingat sejarah Indonesia merupakan negara maritim.

                LDII juga mengajak presiden Indonesia terpilih nantinya dapat mengembangkan generasi penerus yang profesional religius serta peningkatan IPTEK guna menciptakan generasi berwawasan dan berdaya saing. Tidak hanya kepada calon presiden Indonesia terpili, LDII juga mengajak media dan penguna teknologi informasi agar mengunakan, mengelola, serta memanfaatkan media dengan sebaik-baiknya demi kepentingan bangsa. Hal ini diharapkan dapat mendukung terciptanya generasi yang lebih baik.

                Jokowi menanggapi baik berbagai usulan yang disampaikan oleh LDII. Menurutnya saran dan pesan yang diberikan LDII sangat relevan sesuai dengan kebutuhan Indonesia saat ini. “Saya sangat setuju dan sepakat dengan usulan tersebut. Usulan tersebut sangat gamblang dan relevan,” ujar Jokowi.

Jokowi dalam tanggapannya menjelaskan pula visinya dalam memperbaiki Indonesia lewat “Revolusi Mental” yang selama ini ia gembar-gemborkan.  Menurut Jokowi guna memperbaiki Indonesia perlu diperbaiki lewat SDM nya terlebih dahulu. Untuk itu dirinya berusaha membangun paradigma politik baru, tanpa koalisi dan politik bagi-bagi menteri.

Empat hal yang dibahas Jokowi diantaranya mengenai pengembangan pendidikan, peningkatan ketahanan pangan, penciptaan kedaulatan energi, serta peningkatan ekonomi lewat perbaikan infrastruktur di berbagai bidang. Jokowi menyampaikan setidaknya ada 70 infrastruktur yang akan diperbaiki olehnya apabila terpilih kelak.

Jokowi menyinggung Indonesia dengan potensi3alam yang luar biasa, sulit menjadi negara maju karena ada sekelompok orang yang diuntungkan dengan mempersulit akses ke barang modal, “Ada yang rugi bila BBM diganti dengan batu bara dengan gas, mereka inilah yang terus membuat kesan seolah-olah semuanya sulit dan akhirnya harus disubsidi,” ujar Jokowi.

Jokowi memisalkan bila PLN diberi konsensus batu bara dan gas, PLN tidak akan menggunakan BBM, dengan demikian listrik menjadi murah. Jokowi juga memprogramkan bila terpilih menjadi presiden, dia akan membangun Tol Laut, yang terdiri dari kapal yang sangat besar yang menghubungkan Papua dengan Sumatra, sehingga harga semen di Jawa yang Rp 50 ribu per sak, tidak menjadi Rp 1 juta per sak di Papua. (Bahrun/Lines)

sumber:

http://www.ldii.or.id/news/organisasi/1465-jokowi-ada-pihak-yang-diuntungkan-bila-indonesia-tidak-maju.html

Berita Terkait:

News / Nasional

Ini Visi Misi Jokowi kalau Jadi Presiden

Kamis, 15 Mei 2014 | 07:05 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Joko Widodo memberikan sambutan saat acara deklarasi di Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jakarta, Rabu (14/5/2014). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, dan Partai Kebangkitan Bangsa akan mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden 2014 pada 9 Juli 2014 mendatang.

JAKARTA, KOMPAS.com — Bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo selalu mengelak jika ditanya soal visi misinya kalau terpilih sebagai presiden RI. Ia hanya sempat mengungkapkan, salah satu program besarnya yaitu revolusi mental. Lainnya, Jokowi memilih untuk menyimpan rapat visi misinya dan berjanji akan menyampaikannya pada waktu yang tepat.

Saat menghadiri Rapat Pimpinan Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Selasa (13/5/2014), di Jakarta, Gubernur DKI Jakarta itu secara gamblang memaparkan apa yang akan dilakukannya jika menjadi orang nomor satu di republik ini.

Berikut sejumlah program yang dipaparkan Jokowi sebagai visi misinya:

1. Pendidikan
Di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental. Menurutnya, revolusi mental akan efektif bila diawali dari jenjang sekolah, terutama pendidikan dasar. Menurutnya, siswa SD seharusnya mendapatkan materi tentang pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, pendidikan etika sebesar 80 persen. Sementara itu, ilmu pengetahuan cukup 20 persen saja.

“Jangan terbalik seperti sekarang. Sekarang ini anak-anak yang kecil dijejali dengan Matematika, Fisika, Kimia, IPS. Sehingga yang namanya etika, perilaku, moralitas tidak disiapkan pada posisi dasar,” kata Jokowi.

Menurut Jokowi, porsi materi ilmu pengetahuan diperbesar pada tingkat SMP. Meski porsi ilmu pengetahuan diperbesar, Jokowi mengatakan, materi pendidikan karakter, budi pekerti, dan etika harus lebih besar. Ia menggambarkannya dengan persentase 60-40 persen untuk pendidikan karakter.

Jokowi mengatakan, porsi besar untuk materi tentang ilmu pengetahuan baru diberikan di jenjang SMA. Besarnya, kata dia, mencapai 80 persen. Pada tahap SMA, porsi untuk pendidikan karakter, budi pekerti, dan akhlak cukup 20 persen saja.

Selain itu, ia juga ingin meningkatkan jumlah SMK. Menurutnya, negara-negara industri maju seperti Jepang, Korea, dan Jerman adalah negara-negara yang punya banyak SMK.

“Peningkatan jumlah SMK adalah salah satu yang penting. Karena keterampilan semua ada di sana. Karena di situ ada teknologi, di situ ada keterampilan, di situ ada skill yang dibangun,” ucap Jokowi.

Ia yakin, jika semua hal di atas dilakukan, akan muncul generasi yang memiliki sikap mental dan budaya kerja yang baik, serta penuh daya saing, yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas bagi bangsa dan negara.

“Karena percuma kekayaan alam yang besar jika tidak dibarengi dengan produktivitas, serta daya saing bagi SDM yang ada di dalamnya. Tanpa revolusi mental, tanpa budaya kerja yang sudah tertanam sejak kecil, saya kira sulit juga untuk membangun sebuah daya saing dan produktivitas,” papar Jokowi.

2. Pertanian
Di sektor pertanian, Jokowi menilai, Indonesia kehilangan orientasi untuk membangun sektor ini. Indonesia, kata dia, tak pernah lagi memunculkan varietas-varietas unggul. Bahkan, menurut Jokowi, satu hektar lahan pertanian di Indonesia hanya dapat menghasilkan maksimal 4,5 ton, sementara di negara lain bisa mencapai 8-9 ton.

“Mestinya kalau sudah ditentukan ingin memajukan pangan, infrastrukturnya dibangun. Bendungan dan segala sistem irigasinya harus disediakan. Yang berkaitan dengan pupuk, pestisida, semuanya harus disiapkan. Riset harus menjadi kunci utama, dan diberi anggaran yang besar sehingga kita akan bisa memunculkan kembali varitas-varitas unggul,” katanya.

Selain itu, Jokowi juga menyoroti banyaknya lahan-lahan pertanian yang terkonversi menjadi perumahan, industri, dan pertambangan. Menurutnya, hal tersebut adalah kesalahan karena Indonesia saat ini membutuhkan banyak lahan untuk sawah dan ladang baru. Tak hanya itu, ujarnya, infrastruktur pendukung lahan pertanian seperti waduk dan bendungan juga harus diperbanyak.

“Pernah tidak mendengar kita bangun waduk dan bendungan baru? Padahal dalam perencanaan kita bisa bangun 70-an waduk per tahun. Tetapi tidak dilaksanakan karena kita kehilangan disorientasi,” ujar Jokowi.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyoroti mahalnya ongkos produksi karena petani bergantung pada pupuk dan pestisida kimia.

“Harusnya petani disediakan pupuk dan pestisida gratis sehingga mereka tidak terbebani biaya,” katanya.

Jokowi juga menyoroti keberadaan terminal agro. Menurutnya, terminal agro sudah seharusnya berada di setiap kabupaten. Ia menilai, menambah keberadaan terminal tersebut akan dapat meningkatkan produksi di sektor pertanian, seperti yang dilakukan Thailand.

“Terminal agro jangan hanya gedung saja. Saya lihat di Dubai dan Abu Dhabi, 80 hektar lahan digunakan hanya untuk tempat penyimpanan logistik pertanian saja. Mestinya di setiap daerah ada yang seperti itu,” ujar Jokowi.

“Sebanyak apa pun panen yang melimpah ruah, tidak akan berarti kalau tidak disiapkan industi pasca panen. Inilah yang harus diluruskan, karena ketika kita menyuruh petani untuk menanam, maka harus disiapkan pula industri pasca panennnya,” katanya lagi.

3. Kelautan
Di bidang kelautan, Jokowi menyoroti kalah bersaingnya nelayan-nelayan lokal karena ketertinggalan dalam bidang teknogi dibanding nelayan-nelayan asing. Hal itu, menurutnya, menjadi salah satu penyebab melonjaknya harga ikan di pasaran.

“Kapal-kapal negara lain yang masuk ke laut kita sudah komplet. Ada kapal sepuluh, yang sembilan nangkap, yang satunya untuk pengalengan. Langsung dikalengkan. Kenapa kita tidak bisa seperti itu. Padahal sebenarnya bisa,” kata Jokowi.

Ia berjanji, jika terpilih sebagai presiden akan menyediakan kapal-kapal modern untuk para nelayan, yang disertai dengan pelatihan bagi para nelayan.

“APBN kita gede banget, hampir Rp 1.700 triliun. Berapa sih biaya beli kapal? Murah sekali. Dan berikan nelayan pelatihan, jangan yang gratisan karena itu tidak mendidik. Saya paling tidak setuju dengan yang gratisan,” ujarnya.

4. Energi
Di bidang energi, Jokowi menyoroti besarnya subsidi BBM dan subsidi listrik. Menurutnya, daripada terus-terusan memberikan subsidi BBM, lebih baik memaksimalkan gas dan batubara yang jauh lebih murah.

“Contohnya untuk listrik. Subsidi listrik itu mencapai Rp 70 triliun. Tapi kenapa listrik pakai BBM, kenapa tidak pakai batubara?” kata Jokowi.

Jokowi mencurigai, selama ini ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan dari besarnya subsidi BBM dan listrik. Hal itu yang dinilaiya menjadi penyebab dilakukannya kebijakan yang sebenarnya lebih banyak merugikan kas APBN itu.

“Kenapa harus kita lakukan terus menerus? Karena ada yang mengambil keuntungan besar dari sana. Dan keuntungannya itu dibagi-bagi. Saya sudah tahu. Dulu waktu di Solo belum tahu. Tapi setelah di Jakarta jadi tahu semuanya,” kata mantan Wali Kota Solo itu.

“Kalau BBM bisa dikonversi ke gas atau batubara, kita akan bisa menghemat anggaran hingga Rp 70 triliun per tahun. Jadi ada efisiensi anggaran,” lanjutnya.

5. Infrastruktur
Di bidang infrastruktur, Jokowi menyoroti masih kurangnya pengembangan infrastruktur di laut, pengembangan bandara, maupun penambahan jalur kereta api. Untuk infrastruktur laut, ia menilai, jika dapat dimaksimalkan, maka ke depannya tidak ada lagi ketimpangan harga antara daerah yang satu dengan yang lain. Ia mengistilahkan konsep pembagunan infrastruktur laut yang akan ia lakukan dengan istilah “tol laut”.

Menurutnya, tol laut adalah penyediaan kapal-kapal berukuran besar untuk pengangkutan antarpulau dalam waktu yang sesering mungkin.

“Jadi tol laut ini modalnya hanya kapal. Bukan bangun tol di atas laut. Jadi tol laut itu pengangkutan pakai kapal dari pelabuhan ke pelabuhan, tapi bolak-balik. Ini akan mempermudah manajemen distribusi logistik, sehingga harga-harganya akan lebih murah,” kata Jokowi.

Jokowi menjelaskan bahwa tol laut adalah konsep distribusi jalur laut yang menghubungkan lima pelabuhan besar, yakni Pelabuhan Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Makassar, dan Sorong (Papua Barat).

“Jadi harus ada penyediaan kapal besar, dari Sumatera langsung ke Papua, Papua ke Sumatera. Kalau ada kapal besar, ongkos angkutnya akan menjadi kecil dan murah, karena ngangkutnya langsung banyak. Jadi tidak akan ada lagi harga semen di Jawa Rp 50 ribu, di Papua Rp 1 Juta,” ujar Jokowi.

Jokowi mencontohkan distribusi sapi dari NTT dengan yang ada di Australia. Ia menilai, secara kualitas, sapi NTT tidak kalah dibanding sapi Australia. Kekurangan yang terjadi selama ini hanya terletak pada ketiadaan kapal pengangkut sapi yang berukuran besar.

“Kalau dari NTT, ngangkutnya pakai kapal kecil-kecil. Sebenarnya sapi di sana tidak kalah kualitasnya dibanding sapi Australia. Tapi ongkos biaya angkutnya yang mahal, bisa sampai 50-60 persen. Kiriman sapi dari Australia, sekali angkut bisa sampai 30 ribu sapi di dalam satu kapal. Kapal besar itu yang kita tidak punya,” katanya.

“Kalau ada tol laut ini, akan mempermudah distribusi. Dari pulau besar ke pulau besar pakai kapal besar. Nanti ke pulau yang agak kecil pakai kapal sedang. Dilanjutkan lagi dengan pakai kapal kecil ke pulau-pulau kecil. Jadi, bukan kapal kecil dari Papua ke Jawa yang belum tentu bisa sampai ke Jawa, karena di tengah jalan kena ombak langsung terguling. Hilang semen, hilang sapinya,” jelas Jokowi .

Sementara itu, untuk pengembangan bandara, Jokowi mengaku akan menerapkan konsep kerja sama dengan investor swasta. Menurutnya, ide tersebut muncul tak lepas dari permasalahan lambannya pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, yang berpengaruh pada semakin karut-marutnya jadwal penerbangan.

“Seharusnya kalau APBN tidak sanggup, serahkan saja ke swasta. Tidak masalah. Asal hitung-hitungannya jelas dan biaya pelayanan nantinya tidak membebani masyarakat. Kalau diserahkan ke investor, semua bandara akan bisa dibagun baru seluruhnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jokowi juga menyoroti seputar infrastruktur jalur kereta. Menurutnya, sudah seharusnya dilakukan penambahan jalur kereta di Jawa, sembari membangun jalur kereta di kawasan-kawasan tambang di Sumatera dan Kalimantan.

“Pengangkutan batubara, nikel, dan bauksit jangan sampai menggunakan jalan raya. Karena selain mahal, juga akan merusak jalan. Dan itu kewajiban negara,” kata Jokowi.

6. Administrasi birokrasi
Jokowi menutup pemaparan visi dan misinya dengan program pembenahan di bidang administrasi dan birokrasi. Ia berjanji, bila terpilih, akan segera menerapkan sistem elektronik dan jaluronline dalam hal pengadaan barang dan jasa di seluruh institusi pemerintah, termasuk dalam hal pengawasannya. Sistem tersebut adalah sistem yang saat ini diterapkannya di lingkungan pemerintah provinsi DKI Jakarta.

“Kita harus menerapkan e-budgetinge-purchasinge-catalogue,e-audit, pajak online, IMB online. Kita online-kan semua. Jadi tidak ada lagi ‘ketema-ketemu’, supaya ‘amplop-amplopan’ hilang,” katanya.

News / Nasional

Jokowi: Saya Tak Pernah Mengajukan Diri sebagai Capres

Selasa, 13 Mei 2014 | 18:05 WIB
Kompas.com/SABRINA ASRILGubernur DKI Jakrta Joko Widodo usai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (14/5/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku tidak pernah berpikir untuk maju sebagai calon presiden. Jokowi beralasan dia baru sebentar menjadi pemimpin Jakarta. Selain itu, dia juga tidak masuk dalam struktur DPP PDI Perjuangan.

“Makanya, setiap ditanya, saya jawab ndak mikir karena betul-betul ndak mikir. Karena logikanya tidak mungkin,” kata Jokowi saat menghadiri Rapimnas Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Hingga Jumat, 14 Maret 2014 pagi, Jokowi mengaku sempat diminta Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi diminta tidak ke luar kota.

“Jam 14.45, pas lagi di Marunda, saya ditelepon dinyatakan sebagai calon presiden. Jadi, bukan saya yang mengaju-ngajukan diri untuk maju sebagai capres,” lanjut Jokowi di hadapan ratusan anggota LDII yang menghadiri acara tersebut.

Pada kesempatan itu, Jokowi didaulat untuk memaparkan visi dan misinya. Namun, sebelumnya, dia menceritakan perjalanan politiknya. Jokowi menuturkan, perjalanan politiknya dimulai ketika dia didorong untuk maju menjadi calon wali kota Solo pada 2005.

Jokowi mengatakan, saat itu ia sebenarnya sama sekali tak pernah berniat untuk terjun ke dunia politik. “Tapi, saya didorong untuk ikut, salah satu yang mendorong adalah orang LDII,” kata Jokowi yang disambut tepuk tangan para peserta.

Keluarga tak setuju

Jokowi akhirnya dapat memenangi Pilkada Solo 2005 dengan perolehan suara 37 persen. Menurut Jokowi, keluarganya adalah pihak yang paling tidak setuju dengan keputusannya maju ke dalam dunia politik.

Karena itu, Jokowi mengaku telah memutuskan, ketika masa jabatannya telah berakhir pada 2010, ia tidak akan maju kembali pada Pilkada Solo 2010 dan lebih akan fokus mengurus pabriknya. Namun, jelang masa jabatannya berakhir, Jokowi mengaku didatangi banyak kelompok warga masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan yang memintanya maju kembali.

Permintaan tersebut, kata Jokowi, membuatnya luluh. Ia pun memutuskan ikut kembali pada Pilkada Solo 2010. “Tapi, saya memutuskan tidak mau kampanye dan keluar uang. Tapi, akhirnya malah menang 91 persen,” ucap Jokowi.

Saat baru dua tahun menjalani masa jabatan kedua sebagai Wali Kota Solo, tiba-tiba Jokowi diminta untuk maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada Pilkada DKI 2012. Menurut Jokowi, Megawati adalah orang yang saat itu memintanya bersaing memperebutkan kursi DKI-1.

Melaju ke Ibu Kota

Saat itu, Jokowi mengaku tak cukup percaya diri untuk maju menjadi calon gubernur DKI. Sebab, saat itu banyak yang menilai jika ia tidak akan mampu mengalahkan Gubernur DKI incumbent, Fauzi Bowo.

“Tapi, Allah memberikan garis yang berbeda. Ternyata menang. Putaran pertama 43 persen. Banyak yang tidak percaya, lembaga survei tidak ada yang benar. Putaran kedua dapat 53 persen,” kata Jokowi.

Setelah enam bulan menjabat sebagai gubernur, banyak bermunculan hasil survei yang menempatkan Jokowi sebagai figur yang paling diinginkan masyarakat Indonesia untuk menjadi presiden berikutnya.

 

Selasa, 13/05/2014 15:57 WIB

Hadiri Rapimnas LDII, Jokowi Bicara Soal Revolusi Mental

 Ray Jordan – detikNews
Jakarta – Bakal calon presiden yang diusung PDIP, NasDem dan PKB, Joko Widodo (Jokowi) menghadiri rapat pimpinan nasional (Rapimnas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Dalam kesempatan itu, Jokowi bicara masalah revolusi mental.
Jokowi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang mumpuni, namun tidak diimbangi dengan sumber daya manusianya. Oleh sebab itu, pendidikan karakter harus ditanam sejak dini untuk mempersiapkan SDM yang siap untuk kemajuan.”Apa itu revolusi mental? Negara sekaya apapaun, kalau SDM-nya tidak disiapkan, nantinya 2025 kita akan masuk ke dalam manusia yang produktif. Kalau tidak disiapkan sekarang, bisa jadi bencana sosial,” ujar Jokowi di Gedung Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (13/5/2014).Untuk itu, terang Jokowi, harus dimulai dari pembangunan karakter sejak dini. Kurikulum di sekolah harus dievaluasi dengan memperbesar porsi pembangunan karakter bukan pendidikan formil.

“Kurikulum harus ada evaluasi. Di SD, harusnya 70-80 persen harusnya adalah pendidikan karakter, budi pekerti, etika. Mengenai pengetahun, bisa 20-30 persen. Sekarang anak kecil dijejali matematika, fisika, IPA, IPS, sehingga yang namanya etika, perilaku, akhlak, mentalitas tidak disiapkan pada posisi dasar. Kemudian SMP baru masuk 60, 40. Tetap pendidikan akhlak, budi pekerti yang jadi utama. Kemudian yang SMA/SMK baru dibalik 80 persenya pengetahuan dan 20 keterampilan. Sehingga yang muncul adalah generasi yang mempunyai sikap mental yang baik, budaya kerja yang baik. Percuma punya kekayaan alam yang besar tanpa sebuah produktifitas,” jelas Jokowi.

“Oleh sebab perlu perubahan baru, perubahan mental, karakter,” tambah Jokowi.

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.