Jangan Ragu Mengangkat Tangan Ketika Berdoa

Dalil-dalil Mengangkat Tangan Ketika Berdoa.

Mengangkat Tangan Ketika BerdoaPada artikel yang lalu tentang doa, atau klik di sini! telah kami paparkan tentang dalil-dalil berkaitan doa dan berdoa kepada Allah SWT.  Berdoa merupakan komunikasi kita sebagai makhluq ciptaan Allah SWT, doa adalah salah satu ibadah kita kepada Allah SWT. Doa merupakan permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Allah SWT sebagai sang Khaliq.

Keterangan berikut ini tidak bermaksud menyelisihi keyakinan pembaca yang mungkin saat ini “tidak mengangkat tangan ketika berdoa”, mungkin punya hujjah sendiri dan kami menghormatinya. Silahkan amalkan apa yang anda yakini.

Penjelasan ini, bukanlah ro’yu /pendapat sendiri apalagi merasa pol sendiri, penjelasan ini kami tujukan khususnya untuk warga LDII yang bertanya, haruskah kita mengangkat tangan saat berdoa? bolehkah kita mengangkat tangan saat berdoa? Ketika berdoa, benarkah mengangkat tangan?, Apakah mengangkat tangan ketika berdoa adalah bid’ah?

Pembaca yang budiman, wabilkhusus warga LDII yang mempertanyakan apakah mengangkat tangan ketika berdoa adalah perbuatan bid’ah? mari kita sama-sama simak dalil-dalil tentang mengangkat tangan ketika berdoa.

Pembaca yang budiman, ternyata dalil-dalil  tentang berdoa dengan mengangkat tangan adalah hadits mutawattir ma’nawi (yang maknanya kuat) yang kebenarannya tidak terbantahkan lagi, bahkan tidak kurang dari seratus kali kejadian Rasulullah SAW  berdoa dengan mengangkat tangan. Rasulullah SAW mengangkat tangan ketika berdoa tidak hanya saat shalat istisqo (shalat ketika minta hujan) saja. Mari kita cermati dalil-dalil di bawah ini:

1. Allah SWT malu jika ada seorang hamba berdoa kepada-Nya dengan mengangkat tangan, lalu tidak mengabulkan doa hambanya tersebut. (Allah akan mengabulkan doa seorang hamba yang memohon kepada-Nya dengan mengangkat tangan).

 قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم : إِنّ رَبّكُمْ تَبَارَكَ وتعَالى حَيِيّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدّهُما صِفْراً

 رواه الإمام أحمد ( 5/438 ) والترمذي ( 5/556 ) وحسّنه ، وأبو داود ( 2/78 ) وابن ماجه (4/28

“Sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Barokah dan Maha Luhur, Yang Maha Terjaga dan Maha Mulia (Allah SWT), malu dari hambaNya ketika hambanya mengangkat tangan kepada-Nya, kemudian mengembalikan tangan hambanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)”.

روى أبو داود ( 1488 ) عَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا ) ، وصححه الشيخ

(الألباني في “صحيح أبي داود” (1320

2.  Dalam Hadits Shahih Bukhary, Nabi Berdoa Mengangkat Tangan Tingi-tinggi sampai Putih Ketiaknya Terlihat.

وَقَالَ أَبُو مُوسَى الأشعري «دَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ . ومثله عن أنس . وقال ابن عمر : رفع النبي صلى الله عليه وسلم يديه وقال 

( اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد (رواه البخاري

“Dan berkata Abu Musa Al-Asyary: Nabi berdoa dan mengangkat kedua tangannya dan saya melihat putih ketiaknya Nabi (mengangkat tangannya tinggi). Dan semisal hadits ini Riwayat dari Anas. Dan berkata Ibnu Umar: Nabi SAW  mengangkat kedua tangannya dan berdoa : ” Ya Allah, saya cuci tangan (tidak turut tanggung jawab) atas apa yang dilakukan kholid” (saat itu Kholid melakukan perbuatan membunuh tawanan perang yang seharusnya tidak diperbolehkan). HR. Shahih Bukhary

3.  Selain Saat Shalat Istisqo (Minta Hujan) Nabi Berdoa dengan Mengangkat Tangan, hanya saja Mengangkat Tangannya tidak setinggi saat Shalat Istisqo.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، وَابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي

(الِاسْتِسْقَاءِ، وَإِنَّهُ يَرْفَعُ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ. (رواه البخاري

“Muhammad Ibnu Basyar bercerita kepadaku dan juga Yahya dan Ibnu Abi ‘Adiyyi, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, berkata: Rasulullah tidak mengangkat tangannya di dalam sesuatu selain doa minta hujan. Dan sesungguhnya Nabi (saat shalat istisqo/minta hujan) mengangkat tangannya tinggi sampai putih ketiaknya terlihat. (HR. Shahih Bukhary)

Jadi, Nabi kalau berdoa selalu mengangkat tangan, hanya saja pada saat shalat istisqo (shalat minta hujan) mengangkat tangannya lebih tinggi dari biasanya (sampai putih ketiak Nabi terlihat).

4.  Hadits Riwayat Shahih Bukhary ini juga memperkuat hujjah Mengangkat Tangan Ketika Berdoa.

عَنْ أَبِي مُوسَى  قَالَ: دَعَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ» وَرَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ، فَقَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ

(القِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ.(رواه البخاري)

“Dari Abi Musa, berkata: Nabi SAW minta air wudhu, kemudian Nabi berwudhu dengan air tersebut, kemudian Nabi Mengangkat Tangannya dan berdoa: Yaa Allah ampunilah Ubaid yakni Abi Amir, dan saya (Abi Musa) melihat putih ketiaknya Nabi. Nabi berdoa lagi: Yaa Allah jadikanlah pada ‘Ubaid pada hari qiamat di atas kebanyakan manusia makhluq Engkau (jadikanlah Ubaid sebagai pemimpin di hari qiamat)”. HR. Bukhary.

5.  Hadits Riwayat Ahmad ini juga memperkuat hujjah Mengangkat Tangan Ketika Berdoa.

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا عَطَاءٌ، قَالَ: قَالَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ: كُنْتُ رَدِيفَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَاتٍ، ” فَرَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو، فَمَالَتْ بِهِ نَاقَتُهُ، فَسَقَطَ

خِطَامُهَا ” قَالَ: ” فَتَنَاوَلَ الْخِطَامَ بِإِحْدَى يَدَيْهِ وَهُوَ رَافِعٌ يَدَهُ الْأُخْرَى . (رواه أحمد في مسنده ). حديث صحيح  وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ

“Husyaim bercerita kepadaku, Abdil Malik menghabari kepadaku (Husyaim), Atho bercerita kepadaku (Abdil Malik), Berkata Atho bahwa Usamah bin Zaid berkata: saya dibonceng Rasulullah SAW di Arafah, Nabi Sedang berdoa dengan mengangkat tangan, Unta Nabi condong (miring) sehingga jatuhlah tali kendali unta. Usamah berkata: maka Nabi meraih tali kendali unta dengan salah satu tangannya dan Nabi mengangkat tangan yang satu lagi (tetap berdoa walaupun dengan satu tangan, karena tangan yang satu dipakai meraih kendali unta). HR. Ahmad.  

6. Hadits Riwayat Shahih Muslim ini juga memperkuat hujjah Mengangkat Tangan Ketika Berdoa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : ” أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ

كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ

  السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

(رواه مسلم)

” Dari Abi Huroiroh, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, Allah tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah perintah kepada orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para utusan. Maka Rasulullah bersabda bahwa Alloh berfirman: “hai para utusan makanlah dari yang baik-baik (halal), dan beramallah yang baik, Sesungguhnya Kami (Alloh) mengetahui dengan apa yang kalian amalkan. ” (Al Mu’minun : 51), dan Allah berfirman: hai orang-orang yang beriman makanlah dari yang baik atas apa yang Aku beri rizqi pada kalian (Al-Baqoroh:172). Kemudian Nabi SAW menceritakan ada seorang laki-laki yang dalam perjalanan jauh yang kusut rambutnya dan berdebu, ia memanjangkan tangannya ke langit (berdoa dengan mengangkat tangan tinggi) dan berdoa: “wahai Tuhanku, wahai Tuhanku”, (tetapi sementara itu) makanannya harom (yang dimakan adalah barang harom/ dari hasil yang harom), minumannya harom, dan pakaiannya harom, dan diberi sarapan dari yang harom, maka bagaimana doanya dikabulkan (oleh Allah). HR. Muslim.

Hadits di atas menjelaskan bahwa sebetulnya orang yang dalam keadaan musafir (dalam perjalanan jauh), harusnya doanya itu mustajab (dikabulkan), tapi karena dia memakan barang harom, meminum barang harom, dan berbusana/berpakaian dari hasil yang harom, sehingga doanya tidak dikabulkan Allah (bagaimana mungkin doanya mau dikabulkan?). Dalam hadits di atas juga dijelaskan tentang doa dengan mengangkat tangan.

7.  Hadits Riwayat Abu Dawud ini juga memperkuat hujjah Mengangkat Tangan Ketika Berdoa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: «أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَدَخَلَ مَكَّةَ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْحَجَرِ فَاسْتَلَمَهُ ثُمَّ طَافَ بِالْبَيْتِ ثُمَّ أَتَى الصَّفَا فَعَلَاهُ حَيْثُ

(يَنْظُرُ إِلَى الْبَيْتِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَذْكُرُ اللَّهَ مَا شَاءَ أَنْ يَذْكُرَهُ وَيَدْعُوهُ». قَالَ: وَالْأَنْصَارُ تَحْتَهُ، قَالَ هَاشِمٌ: فَدَعَا وَحَمِدَ اللَّهَ وَدَعَا بِمَا شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ. (رواه أبو داود

“Dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah menghadap masuk ke Mekah, kemudian Rasulullah menghadap hajar aswad maka nabi mengusapnya, kemudian Nabi thawaf di Baitullah, kemudian mendatangi bukit shofa dan nabi naik hingga melihat ke Baitullah. Maka Nabi mengangkat kedua tangannya dan nabi berbuat untuk menyebut nama Allah dengan yang dikehendaki nabi untuk menyebut-Nya dan nabi berdoa kepada Allah. Abu Hurairah berkata: adapaun orang-orang anshor ada di bawah Nabi. Hasyim berkata: maka nabi berdoa dan memuji kepada Allah, dan Nabi berdoa kepada Allah sesuai yang dikehendaki Nabi.”

HR. Abu Dawud.        حكم الالباني] : صحيح م دون قوله والا نصا ر تحته ]

8. Dalil-dalil lain yang memperkuat mengangkat tangan ketika berdoa

: وقال الامير الصنعاني في سبل السلام

وعن عمر رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مد يديه في الدعاء لم يردهما حتى يمسح بهما وجهه أخرجه الترمذي وله شواهد منها حديث ابن

  عباس عند أبي داود وغيره ومجموعها يقضي بأنه حديث حسن , وفيه الدليل على مشروعية مسح الوجه باليدين بعد الفراغ من الدعاء ،  قيل : وكان المناسبة انه تعالى

 لما كان لا يردهما صفرا فكأن الرحمة اصابتهما فناسب إفاضة ذلك على وجهه الذي هو اشرف الا وأحقها بالتكريم  (انظر سبل السلام)  4/219

” Dan dari Umar RA berkata: ketika Rasulullah  memanjangkan tangannya saat berdoa maka Nabi tidak mengembalikan pada kedua tangan hingga mengusap wajahnya. Tirmidzi mengeluarkan beberapa hadits yang menguatkan (saksi) hadits tersebut yakni hadits Abu Dawud yang dari Ibni abbas dan selainnya Abu Dawud dan kumpulan-kumpulan Hadits/ penguat-penguat hadits yang memutuskan/menghukumi sesungguhnya hadits tersebut adalah hadits-hasan. Dan di dalam hadits tersebut disyariatkan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa, seakan-akan (sesungguhnya) sebuah kecocokan bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Luhur ketika ada orang yang berdoa tidak dikembalikan doanya dalam keadaan kosong, seakan-akan rohmat mengenai pada kedua tangan maka menyandarkan atas selesainya demikian doa atas wajahnya dimana wajah merupakan anggota badan yang lebih mulya dan lebih berhak dimulyakan.”

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه، قَالَ : کَانَ رَسُوْلُ اﷲُ صلي الله عليه وآله وسلم إِذَا رَفَعَ يَدِيْهِ فِي الدُّعَاءِ، لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّي يَمْسَحَ بِهِمَا وَجَهَهُ

رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاکِمُ وَالْبَزَّارُ.

وَقَالَ أَبُوْعِيْسَي : هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ.

“Dari Umar bin Khottob RA, berkata: Ketika Rasulullah SAW mengangkat tangan ketika berdoa, Nabi tidak mengembalikan kedua tangan hingga mengusap wajahnya” Diriwayatkan dari Tirmidzi, Hakim dan Bazzar. Dan berkata Abu Isa (Tirmidzi): Hadits ini shahih.

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّ النَّبِيَّ صلي الله عليه وآله وسلم کَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ. رَوَاهُ أَبُوْدَاوُدَ وَأَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ

” Dari Syaib bin Yazid, dari bapaknya, Sesungguhnya Nabi SAW ketika berdoa, mengangkat tangannya dan emngusap wajahnya dengan tangannya (HR. Abu Dawud)”

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ : کَانَ رَسُوْلُ اﷲِ صلي الله عليه وآله وسلم يَرْفَعُ يَدَيْهِ عِنْدَ صَدْرِهِ فِي الدُّعَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ

“Dari Zuhri, berkata: Rasulullah SAW mengangkat tangannya di sisi dadanya di dalam berdoa, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya”

Berdoa dengan mengangkat tangan menunjukkan sikap yang lebih menghamba, lebih tadhorru dan lebih meyakinkan bahwa kita betul-betul minta dan butuh dengan pertolongan Allah.

   (ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ  (سورة   الأعراف  :55

“Berdoalah kepada Allah dengan merendahkan diri dan suara lembut/pelan-pelan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melewati batas” (QS. Al-A’raaf : 55).”

Dan, dalil-dalil tentang mengangkat tangan ketika berdoa adalah hadits mutawattir ma’nawi yang kebenarannya tidak diragukan lagi.

Maka, jangan ragu mengangkat tangan ketika berdoa!

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.