Fastabiqul Khairat, Nilai Dunia dibanding Akhirat Kecil Banget.

Fastabiqul Khairat, Nilai Dunia dibanding Akhirat Kecil Banget.

Hari ini kami menerima renungan singkat via sms dari salah seorang Ketua DPP LDII yaitu Dr. H. Shobar Wiganda, M.Sc :

” Yang Singkat itu waktu, yang dekat itu kematian, yang menunggu itu kuburan, yang dikejar itu dunia, yang dilalaikan itu akhirat, yang besar itu nafsu, yang berat itu amanah dan kejujuran, yang sulit itu ikhlas dan khusu, yang mudah itu janji dan berbuat dosa, yang lupa itu bersyukur, yang sukar itu bersabar, yang tersimpan itu amal jariah, yang akan ditanya itu amal ibadah. Nyok sedulur di Jumat ini Fastabiqul Khairat, amal ibadah dan dzikir kepada-Nya. Semoga barokah”.

Pak Shobar…, Alhamdulillah jazaakallaahu khaira pak atas pengingatnya dan menjadi inspirasi tulisan ini.

Poro sedulur, demikianlah adanya dengan berbagai alasan kita sering lupa bahwa hakikat kita hidup diciptakan oleh Allah SWT bukan tanpa maksud, namun sebenarnya adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya semata. Allah SWT berfirman dalam Surah Adz-Dzariat ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿سورة الذاريات » الآية ٥٦

” Tidaklah AKu-ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-KU (Alloh SWT). (QS. Adz Dzariyat: 56)

Dengan Allah SWT menyuruh kita ibadah bukan berarti Allah butuh kepada makhluq ciptaannya, sesungguhnya ada tujuan besar Allah SWT menyuruh kita ibadah. Bukankah setelah kita ibadah Allah SWT akan memberi reward berupa kenikmatan yang tiada tara, nikmat yang sangat pol di Surga kelak. Serta, memberikan punishment bagi yang tidak mau ibadah yaitu dengan siksa neraka kelak di akhirat nanti.

Memang Allah menciptakan surga dan mengelilinginya dengan segala hal yang membencikan, Alloh jugalah yang menciptakan neraka yang mengelilinginya dengan yang menyenangkan.

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ   رواه الترمذى كتاب الزهد ٤ – ٥٦٢

Dunia ini adalah penjaranya orang beriman dan surganya orang yang tidak beriman

Jadi wajar saja kalau orang beriman tidak sebebas mereka yang tidak memikirkan kehidupan setelah mati, wajar saja kita dibatasi aturan-aturan, perintah dan larangan.

Gara-gara kesibukan mengejar duniawi sehingga kadang kitaa terlalu cape bin leuleus, kita kadang males bin hoream, gara-gara tidak mau ketinggalan sinetron, atau karena sibuk nganggur…he apa ada? kita sering melupakan hakekat kita diciptakan di muka bumi ini yaitu untuk beribadah, mengabdi kepada-Nya, melaksanakan perintahNya sepolnya kemampuan dan menjauhi larangan sepolnya kemampuan.

Alloh memberi kita nikmat sehat dan longgar namun sering tidak kita gunakan untuk ibadah malah kita pakai lahan. Barulah setelah waktunya tidak longgar dan keadaan tidak sehat kita baru ingat ibadah. Kangen ngaji ke mesjid, kangen beramal shalih.

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ   رواه البخارى

“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia melalaikannya, yaitu nikmat sehat dan longgar”.

Nilai Dunia dibanding Akhirat

Poro sedulur, jangan bandingkan dunia dengan akhirat karena nilainya sangat juwauuuh banget (saking jauhnya).

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

رواه الترمذى كتاب الزهد ٤ – ٥٦٠

“Seandainya dunia (seisinya) harganya/nilainya membandingi sebelah sayap nyamuk, maka niscaya orang yang tidak beriman tidak akan diberi air setegukpun”.

Karena nilainya tidak sesayap nyamuk pun (tidak ada nilainya) sehingga duniawi diobral oleh Allah SWT, orang tak beriman pun diberi duniawi bahkan malah kadang lebih banyak, sehingga kadang-kadang membuat karo-oh/ pikabitaeun / menggiurkan bagi yang tidak memahami nilai dunia dan akhirat, bagi mereka yang tertipu hijaunya kehidupan duniawi yang fana.

وَإِنَّ اللهَ يُعْطِى الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَ لَا يُعْطِى الدِّيْنَ إِ لَّا مَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّيْنَ فَقَدْ أَحَبَّهُ     رواه أحمد

” Dan, sesungguhnya Alloh memberikan keduniaan (harta, tahta, wanita) kepada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sementara Pemberiaan Agama (Hidayah) hanya diberikan kepada orang yang Allah cintai saja. Barangsiapa yang diberi agama (hidayah), maka sungguh ia dicintai oleh Alloh “

Setetes air di ujung jari vs air di lautan samudera
Setetes air di ujung jari vs air di lautan samudera

Sesungguhnya diibaratkan kita mencelupkan ujung jari ke lautan samudra luas, maka air yang menempel di ujung jari kita, itulah dunia seisinya. Ya, iyalah lha wong nikmat yang Allah turunkan ke dunia ini dari zaman manusia pertama dimuka bumi ini (Nabi Adam) sampai hari akhirat nanti, hanyalah nikmat sebesar 1%. Sementara yang 99 % akan diberikan kepada ahli surga. Jauh sekali ya..?

مَا مَثَلُ الدُّنْيَا فِى الْأٰخِرَةِ إِلَّا مَثَلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
رواه ابن ماجه كتاب الزهد ٢ – ١٣٧٦

” Tidak ada gambarannya dunia dibanding akhirat melainkan seperti salah satu kalian meletakkan jarinya di dalam lautan, maka lihatlah apa yang tertinggal di ujung jarinya”

Maukah kita mengorbankan nikmat 99% di akhirat karena mengejar yang 1% yang dikejar umat manusia sedunia ini? kabagean sabaraha persen ya? (berapa yang kita dapatkan) dari nikmat 1% yang dikejar seluruh umat manusia di dunia, hanya nol koma nol nol…nol persen. Itupun kadang sudah bikin orang bangga minta ampun.

Padahal nih sedulur, di akhirat tidak akan pindah telapak kaki seorang hamba sebelum ditanya bagaimana menghabiskan umurnya, akan ditanya pula tentang ilmunya dipakai pengamalan apa, dan ditanya tentang hartanya darimana didapatkan dan bagaimana menghabiskan harta tersebut/ dibelanjakan untuk apa serta dari jasadnya sampai rusak dipakai untuk apa?. mari kita khidmati Hadis berikut :

   لاَ تَزُولُ قَدَاماَ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ  رواه الترمدى

” Tidak pindah telapak kaki seorang hamba hingga ia ditanya perkara habisnya umurnya, dan (ditanya) tentang amalan atas ilmunya, dan (ditanya) tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa, serta (ditanya) tentang jasadnya yang sampai rusak digunakan untuk apa saja “

Orang Cerdas dan Tidak Cerdas Menurut Versi Agama

 الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بعدَ المَوتِ ، والعَاجِزُ مَنْ أتْبَعَ نَفْسَهُ هَواهَا وَتَمنَّى عَلَى اللهِ (رواه الترميذي

” Orang yang Cerdas adalah adalah orang yang mengoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang bodoh adalah yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

makna من دان نفسه adalah mengoreksi diri sendiri sebelum nanti dikoreksi pada hari kiamat. Dan diriwayatkan dari Umar bin Khattab berkata: koreksilah diri kalian sebelum kalian mengoreksi orang lain.

Yuk fastabiqul khairat….! Berlomba-lomba dalam kebaikan…                                                            (YI-www.jabar.ldii.or.id)****

Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

One Comment on “Fastabiqul Khairat, Nilai Dunia dibanding Akhirat Kecil Banget.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.