DPD LDII KOTA PADANG GELAR PELATIHAN PARENTING SKILL

Advertisements
DPD LDII KOTA PADANG GELAR
PELATIHAN PARENTING SKILL
Dengan Tema
MENINGKATKAN KUALITAS PRIBADI IBU
MELALUI KONSEP DIRI POSITIF
Padang, 15-16 Desember 2012
 
Pemateri:  Ir. Sri Tresnahati Ashar, M.Si.
 
Pada hari Sabtu-Minggu tanggal 15-16 Desember 2012, DPD LDII Kota Padang melalui Bidang Pelatihan dan Dakwah bekerja sama dengan Bidang Peranan Wanita menggelar Pelatihan Parenting Skill dengan Tema MENINGKATKAN KUALITAS PRIBADI IBU MELALUI KONSEP DIRI POSITIF yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Miftahul Huda Kel. Koto Panjang Ikur Koto Kec. Koto Tangah Padang.
Dalam kegiatan tersebut materi disampaikan oleh Ir. Hj. Sri Tresnahati Ashar, M.Si dari Jakarta, salah seorang entrepreneur handal  dari Jakarta yang juga merupakan Ibunda dari artis sekaligus presenter ibukota “Ben Kasyafani” suami dari artis “Marshanda”.
Dalam pembukaan kegiatan tersebut Ir. BASTARI BADAL, MP Ketua DPD LDII Kota Padang menyampaikan bahwa “Kegiatan Parenting Skill merupakan salah satu program kerja Bidang Peranan Wanita DPD LDII Kota Padang tahun 2012 yang ditujukan kepada para orang tua (khususnya kaum Ibu) agar memiliki keterampilan berkomunikasi pada anaknya dengang baik, benar dan efektif, sehingga anak2 diharapkan tumbuh menjadi manusia yang :
1.      alim dan faqih dalam agama,
2.      memiliki akhlaqul karimah
3.      mandiri “
 
Ketua Panitia Acara Renol, S.Pi menyampaikan bahwa Peserta yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari Ibu-Ibu Majelis Taklim LDII se-Kota Padang dan juga perwakilan dari DPD LDII Kota/Kab se- Sumatera Barat sebanyak 75 peserta
 
Dalam seminar tersebut Ir. Hj. Sri Tresnahati Ashar, M.Si menyampaikan materi sebagai berikut :
   
Ibu adalah madrasah awal seorang anak, dimana anak belajar dan memperoleh berbagai macam informasi, pengetahuan serta wawasan yang akan menjadi bekal bagi mereka kelak di kemudian hari.  Selain pengetahuan agama beserta penerapannya dalam keseharian,  dari ibu anak belajar bagaimana interaksi hubungan antar manusia dan  bagaimana kualitas hubungan bisa dibangun.
Sebagai  role model (model peran) bagi si anak maka diharapkan seorang ibu mampu menjadi sumber pengetahuan, agar anak bisa banyak menimba ilmu dari sang ibu.  Yang dimaksud adalah  ‘pengetahuan’ disini  adalah nilai-nilai
Konsep Diri  adalah  cara  seseorang   memandang, melihat  dan  menilai   dirinya. Konsep Diri berupa gambaran mental tentang diri sendiri; terdiri dari pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapannya serta penilaian terhadap diri sendiri. Konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia dari kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk.
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku dan mengambil tindakan, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
Seorang ibu yang memiliki Konsep Diri Positif mampu melihat kemampuan dan kelebihan dirinya serta memanfaatkan dan mengembangkannya. Selain itu, ibu akan lebih memahami serta menerima kekurangan-kekurangannya.  Dengan Konsep Diri Positif, ibu akan pasrah dan tawakal dalam berbagai tantangan, bersikap proaktif dan berorientasi pada tindakan serta tidak banyak mengeluh, mampu berinteraksi dalam keluarga secara efektif,  tenang dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam kehidupan, bersikap optimis dan kreatif dalam memandang masa depan.
Ibu yg memiliki Konsep diri yang positif akan melihat dan menilai dirinya positif, sehingga diapun akan mengambil sudut pandang pisitif bagi anaknya.
Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya.
Dengan lingkungan yg positif anak akan belajar mengenai nilai-nilai kehidupan yang baik
Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, atau pun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif.
Hal ini disebabkan sikap orang tua yang misalnya : suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah, dsb – dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya. Jadi anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dia alami dan dapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan memberikan sikap yang baik dan positif, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif.
Bagaimana agar ibu perlu daiajak untuk meningkatkan Konsep Dirinya:
Bersikap obyektif dalam mengenali diri sendiri
Jangan abaikan pengalaman positif atau pun keberhasilan sekecil apapun yang pernah dicapai. Lihatlah talenta, bakat dan potensi diri dan carilah cara dan kesempatan untuk mengembangkannya. Janganlah terlalu berharap bahwa Anda dapat membahagiakan semua orang atau melakukan segala sesuatu sekaligus. You can’t be all things to all people, you can’t do all things at once, you just do the best you could in every way….
Hargailah diri sendiri
Tidak ada orang lain yang lebih menghargai diri kita selain diri sendiri. Jikalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, tidak dapat melihat kebaikan yang ada pada diri sendiri, tidak mampu memandang hal-hal baik dan positif terhadap diri, bagaimana kita bisa menghargai orang lain dan melihat hal-hal baik yang ada dalam diri orang lain secara positif? Jika kita tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai diri kita?
Jangan memusuhi diri sendiri
Peperangan terbesar dan paling melelahkan adalah peperangan yang terjadi dalam diri sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri secara berlebihan merupakan pertanda bahwa ada permusuhan dan peperangan antara harapan ideal dengan kenyataan diri sejati (real self). Akibatnya, akan timbul kelelahan mental dan rasa frustrasi yang dalam serta makin lemah dan negatif konsep dirinya.
Berpikir positif dan rasional
We are what we think. All that we are arises with our thoughts. With our thoughts, we make the world (The Buddha).  Jadi, semua itu banyak tergantung pada cara kita memandang segala sesuatu, baik itu persoalan maupun terhadap seseorang. Jadi, kendalikan pikiran kita jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.
parenting skill 6 parenting skill 5 parenting skill 4 parenting skill 2 parenting skill 1
Bantu Share Artikel ini Ya... 🙂

About DPW LDII Jawa Barat

Author dari jabar.ldii.or.id. Silahkan ikuti penjelasan LDII yang sebenarnya di website kami, sekaligus tabayyun dari kami.

View all posts by DPW LDII Jawa Barat →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.